Fenomena FOMO dan Dampaknya pada Kesehatan Mental di Kalangan Generasi Muda
FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, kini menjelma sebagai tantangan signifikan bagi kesehatan mental generasi muda di era media sosial. Banyak individu merasa tertekan ketika melihat teman-teman mereka terlibat dalam aktivitas menarik yang diposting secara daring.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Dampak dari kondisi ini tidaklah sepele, karena FOMO berpotensi menciptakan kecemasan berkelanjutan dan ketidakpuasan diri. Artikel ini akan mengeksplorasi lebih dalam tentang pengaruh FOMO terhadap kesehatan mental di kalangan anak muda Indonesia.
FOMO adalah suatu keadaan cemas yang berkembang ketika seseorang merasa tertinggal dari aktivitas yang lebih menyenangkan, terutama yang ditampilkan di media sosial. Istilah ini mulai dikenal pada awal 2000-an, tetapi tingkat kepopulerannya meningkat seiring dengan berkembangnya platform digital.
Ciri umum dari FOMO meliputi keinginan untuk terus memeriksa media sosial dan perasaan terasing dari komunitas sosial. Hal ini berdampak signifikan terhadap citra diri dan interaksi sosial seseorang.
Menurut Dr. Andi Setiawan, seorang psikolog di Jakarta, 'Media sosial dapat menjadi sumber utama stres bagi banyak pengguna.' Interaksi digital seringkali memperburuk perasaan cemas dan depresi yang sudah ada.
Baca juga: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri dalam Membangun Hubungan yang Sehat
Salah satu konsekuensi terbesar dari FOMO adalah meningkatnya kecemasan. Individu yang terpengaruh oleh FOMO sering kali merasa tidak cukup baik jika dibandingkan dengan orang lain yang aktif di media sosial.
Selain itu, FOMO dapat mengganggu pola tidur, karena individu merasa perlu untuk terus memeriksa ponsel mereka. Pengaruh ini secara langsung berkaitan dengan penurunan kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi. 'Kombinasi dari ekspektasi sosial yang tinggi dan tekanan dari lingkungan digital dapat sangat merusak,' ungkap Dr. Siti Rahayu, seorang psikiater.
Salah satu langkah untuk mengatasi FOMO adalah dengan menyeimbangkan waktu yang dihabiskan di media sosial dan aktivitas sosial di dunia nyata. Menghabiskan waktu dengan teman-teman dan berolahraga bisa membantu mengurangi rasa cemas yang sering muncul.
Terlebih lagi, banyak ahli merekomendasikan untuk menerapkan detox digital, yaitu mengurangi durasi penggunaan media sosial. Langkah ini bisa memberikan waktu bagi individu untuk menikmati aktivitas secara langsung tanpa tekanan.
Penting juga untuk menggunakan media sosial dengan bijak, seperti memfilter konten yang dikonsumsi. Memahami bahwa tidak semua yang dipajang di media sosial mencerminkan kenyataan dapat membantu menurunkan ekspektasi yang tidak realistis.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Perdebatan Selebritas di DPR dan Tantangan Akuntabilitas
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: