Kondisi Memprihatinkan Sistem Pendidikan: Kasus Tragis di NTT
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kematian seorang siswa kelas IV SD karena gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden ini menjadi sinyal peringatan bagi negara untuk lebih peduli dan melindungi anak-anak dari berbagai tekanan yang tidak seharusnya mereka hadapi.
Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Setelah Kematian Pengemudi Ojek Online
“Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat,” tegas Hetifah kepada wartawan pada Rabu, 4 Februari 2026. Ia menyatakan bahwa peristiwa ini sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di mana pun.
Hetifah menekankan bahwa anak berusia 10 tahun seharusnya mendapatkan perlindungan dan dukungan dari lingkungan sekitar mereka. Tak sepatutnya mereka merasa putus asa hanya karena masalah yang tampaknya sepele, seperti akses terhadap buku dan alat belajar.
Kasus ini menggambarkan pentingnya untuk mengoreksi sistem pendidikan dan perlindungan sosial yang ada saat ini. Pendidikan dasar harus benar-benar gratis dan inklusif, sehingga seluruh anak, termasuk yang berasal dari keluarga miskin, dapat memperoleh haknya.
“Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin,” tambahnya. Ia juga menekankan bahwa sistem pendidikan perlu menjamin akses sekolah dasar tanpa biaya, termasuk perlengkapan belajar.
Baca juga: Kemenperin Konfirmasi iPhone 17 Belum Ajukan Izin Penjualan di Indonesia
Dalam evakuasi, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan dari YBR (10), yang mengungkapkan kekecewaannya kepada ibunya. Dalam surat tersebut, YBR menyatakan bahwa ia merasa sedih dan menyebut ibunya sebagai 'pelit'.
Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Bajawa, berisi ungkapan perpisahan dan permohonan agar ibunya tidak menangisi kepergiannya. “Mama Galo Zee (Mama pelit sekali),” tertera dalam bagian surat tersebut.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai penyebab kekecewaan YBR yang mendasari tindakan tragis ini. Terdapat kabar yang beredar bahwa korban kecewa karena tidak dibelikan buku tulis oleh ibunya.
Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, mengkonfirmasi penemuan surat tersebut dan menyebut bahwa penyelidikan masih berlanjut. “Masih pendalaman,” ujarnya, menunjukkan bahwa masih banyak yang harus diungkap.
Respons dari masyarakat dan pihak berwenang sangat diharapkan untuk mencegah tragedi serupa terulang. Tindakan nyata perlu dilakukan untuk memelihara kepedulian sosial, terutama bagi anak-anak yang berada dalam kondisi sulit.
Kepedulian sosial di lingkungan sekolah perlu ditingkatkan agar setiap anak yang mengalami kesulitan dapat segera mendapatkan bantuan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan tidak akan ada anak lagi yang merasa sendirian dalam menghadapi beragam permasalahan.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Tanggapan dan Komitmen Reformasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: