Nadine Kei Inara (Istimewa)
Di tengah budaya yang sering mengukur keberhasilan dari nilai akademik, sertifikat, atau deretan penghargaan, masih ada anak muda yang memilih jalan berbeda. Bagi Nadine Kei Inara, prestasi bukan sekadar soal menjadi yang terbaik, melainkan bagaimana ilmu yang dimiliki bisa membawa manfaat bagi orang lain.
Nama Kei belakangan menjadi perhatian publik setelah tampil sebagai salah satu peserta Clash of Champions Season 3. Namun, di balik pencapaiannya sebagai mahasiswa di salah satu kampus terbaik dunia, tersimpan perjalanan panjang yang dibangun dari rasa ingin tahu, konsistensi, dan keinginan untuk terus belajar.
Saat ini, Kei menempuh pendidikan di University of California, Berkeley, dengan mengambil double major di bidang Data Science dan Business Administration di Haas School of Business.
Meski demikian, perjalanan akademiknya tidak pernah hanya berfokus mengejar nilai.
Belajar dari Dunia, Kembali untuk Berbagi
Sejak remaja, Kei aktif mengikuti berbagai kompetisi internasional yang mempertemukan pelajar dari berbagai negara.
Ia pernah menjadi Juara 1 Asia Tenggara pada ajang World Scholar's Cup, meraih peringkat ketiga dunia di Barcelona, hingga menyabet penghargaan Best Delegate dalam Oxford Model United Nations dan Harvard Model Congress.
Namun, menurut Kei, pengalaman tersebut jauh lebih berharga daripada sekadar membawa pulang trofi.
Melalui berbagai forum internasional, ia belajar memahami cara berpikir orang dari latar belakang budaya yang berbeda, berdiskusi mencari solusi, hingga membangun kerja sama lintas negara.
Tak Hanya Mengejar Kesempatan, Tapi Menciptakannya
Banyak mahasiswa berlomba mencari kesempatan untuk berkembang. Kei justru memilih menciptakan kesempatan itu bagi orang lain.
Di Berkeley, ia dipercaya menjadi Vice President of Outreach & Education di Berkeley Model United Nations (BMUN). Ia juga menggagas ByLaw, sebuah kompetisi peradilan internasional yang melibatkan peserta dari berbagai negara, serta mendirikan International Model United Nations Conference yang mendapat dukungan UNHCR.
Lewat berbagai inisiatif tersebut, Kei ingin semakin banyak anak muda memiliki ruang untuk belajar, bertukar ide, dan berkembang bersama.
Membawa Indonesia ke Panggung Dunia
Kontribusi Kei juga terlihat melalui dunia budaya. Selama menjabat sebagai Executive Director Nusantara, festival budaya yang digelar Berkeley Indonesian Student Association, ia membantu memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional melalui seni tari, musik, kuliner, hingga permainan tradisional.
Bagi Kei, diplomasi tidak selalu dilakukan di ruang pertemuan resmi. Mengenalkan budaya Indonesia kepada dunia juga menjadi cara sederhana untuk membangun hubungan antarbangsa.
Tetap Menjaga Sisi Kreatif
Kesibukan akademik ternyata tidak membuat Kei meninggalkan dunia seni. Sejak usia 10 tahun, ia telah menulis lagu dan kini memiliki dua karya orisinal berjudul Summer Come Faster dan It Hurts A Little yang telah dirilis di berbagai platform musik digital.
Baginya, musik menjadi ruang untuk mengekspresikan perasaan sekaligus menjaga keseimbangan di tengah padatnya aktivitas akademik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: