Menentukan Pilihan: Obat Topikal atau Obat Minum untuk Redakan Nyeri Otot Setelah Olahraga
Nyeri otot setelah berolahraga adalah masalah yang banyak dihadapi oleh individu dari berbagai kalangan. Ketersediaan pilihan antara obat topikal dan obat minum kerap membingungkan dalam upaya meredakan kondisi ini.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Dikenal dengan istilah delayed onset muscle soreness (DOMS), nyeri ini muncul setelah aktivitas fisik yang intens dan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk beraktivitas kembali.
Nyeri otot setelah berolahraga umumnya terjadi dalam rentang waktu 24 hingga 48 jam setelah aktivitas yang berat. Ini disebabkan oleh kerusakan kecil pada serat otot yang terjadi selama latihan.
Proses ini adalah bagian alami dari pemulihan otot dan dapat terjadi baik pada pemula maupun atlet berpengalaman. Umumnya, nyeri ini muncul setelah perubahan rutinitas latihan atau peningkatan intensitas.
Walaupun nyeri ini bisa menjadi tanda bahwa otot sedang beradaptasi, banyak individu mencari cara efektif untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan. Dalam kasus ini, dua pilihan utama muncul: obat topikal dan obat minum.
Obat topikal merupakan solusi yang dapat dioleskan langsung pada kulit untuk meredakan nyeri otot. Produk ini sering berupa salep atau gel, yang mengandung bahan aktif seperti menthol atau capsicum.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Dampaknya di Kampus
Obat topikal berfungsi dengan memberikan efek dingin atau hangat, yang dapat membantu mengurangi rasa sakit di area yang terkena. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat topikal dapat memberikan hasil yang relatif cepat bagi sebagian pengguna.
"Obat topikal dapat memberikan rasa lega tanpa harus melalui sistem pencernaan, sehingga efek sampingnya cenderung lebih sedikit," ujar Dr. Ahmad, seorang fisioterapis.
Namun, penting untuk diperhatikan bahwa obat topikal tidak selalu mencukupi untuk menangani kasus nyeri yang lebih parah dan tidak dimaksudkan untuk mengatasi peradangan dalam tubuh.
Obat minum, seperti ibuprofen atau paracetamol, sering dipilih untuk mengatasi nyeri yang lebih luas dan peradangan. Obat-obatan ini bekerja melalui pengaruhnya terhadap reseptor nyeri dalam tubuh.
Penggunaan obat minum mungkin lebih efektif dalam beberapa situasi, khususnya jika nyeri sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Banyak orang juga mungkin merasa lebih nyaman dengan mengonsumsi obat yang mudah ditelan ketimbang menggunakan salep.
Namun, penggunaan obat minum dalam jangka panjang dapat berpotensi menyebabkan efek samping pada sistem pencernaan. Maka, sebaiknya tidak mengandalkan obat ini secara berlebihan, terutama tanpa konsultasi dokter.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: