Klaim Kontroversial: Jeffrey Epstein Diduga Terlibat Kegiatan Intelijen untuk Israel
Informan rahasia dari FBI mengungkapkan bahwa Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seks yang meninggal dalam tahanan, mungkin berperan sebagai mata-mata untuk Israel. Klaim ini mengacu pada dokumen yang dirilis oleh Kementerian Kehakiman Amerika Serikat, yang mencakup pernyataan kritis mengenai hubungan Epstein dengan badan intelijen Israel, Mossad.
Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Dalam dokumen tersebut, informan yang disebut sebagai sumber informasi rahasia (CHS) meyakini bahwa Epstein telah direkrut untuk tujuan intelijen oleh Mossad. Keterangan ini menjadi bagian dari skenario yang lebih besar terkait hubungan internasional yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat.
Dalam dokumen yang dirilis, informan yang dikenal sebagai CHS mengutarakan keyakinanya bahwa Epstein berperan dalam kegiatan intelijen untuk Israel. Dalam keterangan yang tertera, disebutkan, 'CHS menjadi yakin Epstein merupakan agen badan intelijen Israel, Mossad yang direkrut.'
Informasi ini muncul di tengah konteks hubungan internasional yang rumit, di mana peran agen intelijen sering kali tidak dapat dipisahkan dari skandal politik global.
Sebagai bukti tambahan, CHS mencatat bahwa dia telah merekam percakapan antara Epstein dan pengacara kenamaan, Alan Dershowitz. Menurut laporan, Dershowitz telah dihubungi oleh Mossad untuk evaluasi lanjutan terkait Epstein.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025
Sumber tersebut juga melaporkan bahwa Dershowitz, saat berbicara dengan Epstein, mengungkapkan ambisinya untuk menjadi agen intelijen jika dia masih muda. Pernyataan ini meningkatkan spekulasi mengenai hubungan mereka dengan badan intelijen.
Dokumen tersebut mencatat bahwa Dershowitz pernah memberi tahu Jaksa AS di Distrik Selatan Florida, Alex Acosta, mengenai hubungan Epstein yang dekat dengan badan intelijen AS dan sekutunya.
Epstein diketahui memiliki kedekatan dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, bahkan ada laporan mengenai pelatihan yang diterima Epstein di bawah bimbingan Barak, yang semakin memperkuat asumsi keterkaitan mereka.
Kasus Epstein kembali mencuat ke permukaan setelah kematiannya pada tahun 2019 di sel tahanan New York, di mana ia seharusnya menjalani persidangan atas tuduhan perdagangan seks. Kejadian ini menimbulkan berbagai spekulasi dan kontroversi, mengingat status sosial dan pengaruh yang dimilikinya.
Pada tahun 2008, Epstein mengaku bersalah di pengadilan Florida atas kasus perekrutan anak di bawah umur untuk prostitusi, namun menerima hukuman ringan yang memicu kritik luas. Kesepakatan tersebut kini dikenal sebagai 'kesepakatan istimewa'.
Dokumen terbaru mencantumkan sejumlah nama tokoh terkemuka lainnya, termasuk Dershowitz, yang menunjukkan bahwa jaringan perdagangan seks Epstein mungkin melibatkan berbagai elit politik dan tokoh keuangan berpengaruh.
Baca juga: Perekrutan Kiper Baru oleh Manchester United dan Manchester City Jelang Penutupan Bursa Transfer
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: