Investigasi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Maros: Penyimpangan Rute dan Komunikasi ATC
Pesawat ATR 42-500 mengalami kecelakaan fatal saat pendaratan di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, dengan menabrak gunung setelah kebablasan dari jalur yang seharusnya diikuti.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, menjelaskan bahwa ketidaksesuaian dalam pelaksanaan prosedur pendaratan berkontribusi terhadap kecelakaan ini.
Soerjanto Tjahjono dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR di Jakarta menjelaskan bahwa pesawat harus mengikuti jalur pendaratan yang ditentukan, tetapi tidak melakukannya.
Pesawat yang seharusnya mendarat di runway 21 mengalami kegagalan dalam mengikuti prosedur yang ditetapkan, yang berakibat pada risiko tinggi selama fase kritis pendaratan.
Dari titik Araja, pesawat seharusnya mengarah ke poin Openg dan Kabip, namun terjadi pelanggaran yang menyebabkan pesawat menuju jalur berbahaya.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya kepatuhan terhadap rute yang telah ditetapkan untuk menghindari kecelakaan di masa mendatang.
Soerjanto juga menyoroti perlunya komunikasi yang lebih baik antara pilot dan Air Traffic Control (ATC) untuk memastikan keselamatan penerbangan.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Terima Aspirasi Mahasiswa Terkait Demonstrasi dan Tunjangan Anggota
Meskipun ATC meminta pilot untuk mengarahkan pesawat ke poin Openg, pesawat tetap melanjutkan penerbangan keluar dari jalur yang seharusnya.
Hal ini menandakan kemungkinan adanya masalah dalam pengendalian pesawat, yang memerlukan evaluasi terhadap sistem komunikasi dan protokol yang ada.
Komunikasi yang efektif antara pilot dan ATC adalah kunci untuk mencegah insiden serupa dan meningkatkan keselamatan penerbangan.
Pesawat ATR 42-500 akhirnya terjatuh di kawasan pegunungan Bulusaraung, menandai titik puncak dari penyimpangan yang terjadi sebelum pendaratan.
Proses pencarian dan penanganan kecelakaan ini ditangani oleh Basarnas, yang berupaya menemukan korban selamat di lokasi sulit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: