Diskrepansi Penilaian antara Kritikus dan Penonton pada Avatar: Fire and Ash
Film terbaru arahan James Cameron berjudul Avatar: Fire and Ash menghadapi perbedaan signifikan dalam penilaian antara kritikus film dan penonton. Meskipun mendapatkan kritik tajam, film ini tetap memperoleh sambutan baik dari penggemar dengan skor tinggi di berbagai platform penilaian.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Melanjutkan Perjalanan ke China
Penilaian dari 307 kritikus di laman Rotten Tomatoes menunjukkan angka 66 persen, menjadikannya yang terendah dalam saga Avatar. Sementara itu, penonton memberikan skor 91 persen di Popcornmeter, menunjukkan adanya ketidakcocokan dalam persepsi antara kritikus dan audiens.
Avatar: Fire and Ash, sebagai film ketiga dalam franchise Avatar, menerima penilaian yang kurang menguntungkan dari kritikus. Di Rotten Tomatoes, film ini mendapatkan nilai 66 persen, yang merupakan angka terendah jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya, di mana Avatar (2009) mencapai 81 persen.
Beberapa kritikus menyoroti bahwa film ini hanya mengandalkan efek visual yang megah tanpa menawarkan kedalaman cerita yang cukup. Stephanie Zacharek dari TIME Magazine berkomentar, "visi Cameron tidak lagi terasa sebagai masa depan, melainkan sebuah perjalanan nostalgia, bentuk deja vu yang sangat mahal."
Sementara itu, Peter Bradshaw dari The Guardian menyatakan, "Avatar tetap sama besarnya dalam ketidakmenarikan dan sama kolosalnya dalam ketahanan terhadap kritik seperti sebelumnya: sebuah bangunan besar yang kosong, yang dengan tenang menolak segala keberatan."
Nicholas Barber dari BBC.com menggambarkan film ini sebagai "197 menit grafis seperti screensaver, dialog kaku, alur cerita yang menggelembung dan longgar," serta mengkhawatirkan sekuel-sekuel yang akan datang.
Baca juga: Korea Selatan Bersiap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Meski mendapatkan kritik, beberapa kritikus tidak meragukan keahlian James Cameron dalam menghadirkan film ini. Jake Coyle dari Associated Press mencatat bahwa "ini tetap merupakan epik dalam hal keterampilan dan keyakinan," serta menggarisbawahi dedikasi Cameron dalam mengembangkan dinamika karakter.
David Ehrlich dari IndieWire menambahkan, meskipun film mengikuti pola yang sama, Cameron berhasil menciptakan momen-momen tertentu yang terasa baru dan menyegarkan. "[Ekspektasi] tidak mempersiapkan saya pada kenyataan menyaksikan salah satu penjelajah terbesar sinema berjalan berputar-putar selama tiga jam," ungkapnya.
Melalui pandangan yang beragam, terlihat bahwa meskipun terdapat kelemahan dalam narasi, apresiasi terhadap kualitas teknis film ini tetap terlihat. Keterlibatan mendalam terhadap karakter menjadi salah satu aspek yang dicatat dalam penggarapannya.
Avatar: Fire and Ash berhasil mencapai 91 persen di Popcornmeter, menunjukkan bahwa banyak penonton yang menikmati film ini meskipun mendapat banyak kritik negatif. Hal ini menggambarkan adanya perbedaan persepsi yang mencolok antara kritikus dan audiens mengenai film.
Banyak penonton yang menanggapi kritik tersebut dengan menyatakan bahwa kemiripan cerita dengan film sebelumnya adalah hal yang wajar, karena merupakan sekuel. Mereka menghargai usaha Cameron dalam mengembangkan karakter dan plot meski dinilai sederhana oleh beberapa kritikus.
Film ini mengisahkan konflik internal dalam keluarga Jake Sully setelah peristiwa di film sebelumnya, The Way of Water, dan melibatkan ujian kesetiaan yang dihadapi oleh keluarga tersebut. Film ini mulai tayang di bioskop Indonesia pada 17 Desember 2025.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: