Kategori Berita
Selasa, 09 DESEMBER 2025 • 16:40 WIB

Risiko Meningkatnya Penyakit Pasca Banjir di Sumatera

Risiko Meningkatnya Penyakit Pasca Banjir di SumateraRisiko Meningkatnya Penyakit Pasca Banjir di Sumatera

Banjir yang melanda beberapa daerah di Sumatera tidak hanya menyebabkan kerusakan pada infrastruktur, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit. Kondisi lingkungan yang kotor dan terbatasnya akses terhadap air bersih memperburuk kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.

Baca juga: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri dalam Membangun Hubungan yang Sehat

Epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University menyatakan bahwa ada empat penyakit utama yang dapat menyebabkan wabah pasca-bencana banjir, yang berdampak tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain dengan karakteristik lingkungan serupa.

Ancaman Leptospirosis Pasca Banjir

Leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang paling umum muncul setelah terjadinya banjir. Dicky Budiman menegaskan, 'Leptospirosis sekarang itu yang tinggi potensi menjadi wabah' akibat paparan manusia terhadap air kencing tikus dan hewan reservoir lainnya.

Kondisi ini diperburuk dengan meningkatnya interaksi masyarakat dengan lingkungan yang tercemar, sehingga peningkatan tingkat penularan bakteri Leptospira menjadi perhatian serius bagi kesehatan masyarakat pascabanjir.

Baca juga: Google Menanggapi Isu Keamanan Phishing pada Layanan Gmail

Penyakit Fekal-Oral dan Dampaknya

Penyakit berbasis fekal-oral, terutama diare, menjadi ancaman serius pascabanjir. Kondisi sanitasi yang buruk dan sumur dangkal yang terkontaminasi air banjir memicu beragam infeksi.

Dicky mengungkapkan, 'Orang BAB atau kencing dimana saja' menjadi salah satu pemicu penyebaran penyakit ini. Dengan terbatasnya fasilitas mencuci tangan di lokasi pengungsian, risiko penularan penyakit fekal-oral meningkat drastis.

Dampak Demam Tifoid dan Penyakit Vektor

Demam tifoid (tipes) juga merupakan penyakit lain yang sering meningkat setelah banjir. Dicky menjelaskan, 'Makanan dan minuman mudah terkontaminasi oleh air banjir', sehingga memicu penyebaran bakteri penyebab demam tifoid.

Sementara itu, genangan air yang tersisa setelah banjir menjadi tempat berkembang biak ideal bagi nyamuk, yang dapat memicu peningkatan risiko penyakit demam berdarah dengue dan malaria. Dicky mencatat, 'Ini biasanya terjadinya satu bulan pasca bencana, jadi agak lebih lama'.

Baca juga: Perekrutan Kiper Baru oleh Manchester United dan Manchester City Jelang Penutupan Bursa Transfer

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Risiko Meningkatnya Penyakit Pasca Banjir di Sumatera

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!