Dampak Media Sosial: Fenomena 'Brain Rot' dan Cara Mencegahnya
Konten singkat dan adiktif di media sosial dapat menyebabkan perubahan signifikan pada otak pengguna, yang dikenal sebagai 'brain rot'. Istilah ini merujuk pada penurunan kognitif akibat kebiasaan scrolling yang berlebihan.
Baca juga: Novak Djokovic Melangkah ke Semifinal US Open 2025 Setelah Mengalahkan Taylor Fritz
Penelitian menunjukkan bahwa kecanduan terhadap media sosial dapat memengaruhi cara kerja otak dan mengganggu pengambilan keputusan, dengan dampak negatif terhadap kemampuan berpikir kritis dan daya ingat individu.
Masyarakat saat ini semakin terpaku pada media sosial, terutama konten pendek yang dirasa menghibur. Psikolog Artika Mulyaning Tyas, S.Psi, M.Psi, menjelaskan bahwa konten hiburan instan, seperti lelucon dan tantangan ekstrem, berpotensi mengganggu kemampuan berpikir seseorang.
'Media sosial bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memberikan akses informasi. Namun, di sisi lain, penggunaan yang tidak terkontrol dapat berdampak negatif,' tuturnya.
Kebiasaan tersebut dapat menyebabkan gangguan kognitif, seperti penurunan daya ingat dan kesulitan pengambilan keputusan. Secara emosional, penggunaan media sosial yang tidak sehat dapat menyebabkan peningkatan stres dan kecemasan.
Baca juga: Kemenperin Konfirmasi iPhone 17 Belum Ajukan Izin Penjualan di Indonesia
Peneliti melaporkan bahwa ada tiga hal utama yang terjadi pada seseorang yang terkena 'brain rot'. Pertama, terdapat gangguan kognitif yang mencakup penurunan kemampuan berpikir analitis dan pemecahan masalah.
Kedua, gangguan emosional dapat muncul, yang menyebabkan ketergantungan pada media sosial sebagai pelarian dari stres. Ketiga, efek sosial dalam bentuk pengurangan interaksi sosial yang bermakna juga menjadi perhatian.
Kurangnya kemampuan menyelesaikan konflik secara efektif melalui komunikasi terlihat jelas di kalangan pengguna yang terjebak dalam dunia digital.
Mengelola penggunaan media sosial yang bijak menjadi penting untuk mencegah dampak negatif yang ditimbulkan oleh 'brain rot'. Artika menyarankan agar konsumsi media sosial dibatasi tidak lebih dari 1-1,5 jam setiap hari.
Ia juga menekankan pentingnya memilih konten berkualitas dan mengurangi paparan terhadap konten yang hanya berisi hiburan. Melatih keterampilan berpikir kritis juga dianjurkan, termasuk kebiasaan membaca dan berdiskusi.
'Habiskan lebih banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman,' ungkapnya sebagai saran lain untuk menjaga kesehatan mental.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: