Pemerintah Rusia Memblokir Akses ke Roblox Karena Konten Berbahaya
Pemerintah Rusia telah mengambil langkah drastis dengan memblokir akses ke platform permainan daring, Roblox, yang dianggap mengandung konten merusak moral anak-anak.
Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Setelah Kematian Pengemudi Ojek Online
Otoritas setempat beralasan bahwa keberadaan materi ekstremis dan propaganda LGBT di platform tersebut berisiko terhadap perkembangan spiritual dan moral anak-anak.
Pengawas komunikasi Rusia menegaskan bahwa 'Roblox berisi konten yang tidak pantas yang bisa berdampak negatif pada perkembangan spiritual dan moral anak.' Keputusan pemblokiran ini mencerminkan perhatian pemerintah Rusia terhadap potensi pengaruh negatif dari platform permainan ini.
Otoritas Rusia menuduh bahwa Roblox mendistribusikan materi yang berpotensi ekstremis, mengklaim bahwa hal ini dapat membahayakan perkembangan anak-anak. Langkah ini juga sejalan dengan pemblokiran serupa yang dilakukan oleh beberapa negara lain.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual Berbasis Kecerdasan Buatan
Sebelumnya, negara-negara seperti Irak dan Turki juga telah mengumumkan larangan akses ke Roblox. Mereka mendasarkan keputusan ini pada kekhawatiran terkait kemungkinan eksploitasi anak-anak dalam platform permainan tersebut.
Kekhawatiran ini mencerminkan pergeseran global mengenai pengawasan konten yang dapat membahayakan generasi muda, membuat banyak negara lebih berhati-hati dalam meriwayatkan platform daring yang diakses oleh anak-anak.
Menanggapi pemblokiran ini, juru bicara Roblox menyatakan, 'Kami menghormati aturan negara tempat kami beroperasi.' Perusahaan yang berpusat di Amerika Serikat ini berkomitmen untuk menyediakan lingkungan yang positif melalui serangkaian langkah keamanan yang ketat.
'Kami memiliki serangkaian langkah keamanan proaktif dan preventif yang kuat didesain untuk menangkap dan mencegah konten berbahaya di platform kami,' tambahnya, menunjukkan upaya perusahaan dalam menjaga integritas platform.
Roblox juga mengumumkan rencana untuk menerapkan sistem verifikasi usia berbasis wajah. Sistem ini bertujuan untuk menjaga akses fitur obrolan sesuai dengan kelompok umur pengguna, di mana pengguna di bawah 9 tahun akan memiliki fitur obrolan yang dinonaktifkan secara otomatis.
Baca juga: Pemeriksaan Eks Menteri Agama oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: