Kategori Berita
Selasa, 18 NOVEMBER 2025 • 14:00 WIB

Deteksi Mikroplastik di Udara: Memperhatikan Ancaman Kesehatan di Indonesia

Deteksi Mikroplastik di Udara: Memperhatikan Ancaman Kesehatan di IndonesiaDeteksi Mikroplastik di Udara: Memperhatikan Ancaman Kesehatan di Indonesia

Laporan dari Ecoton mengungkapkan bahwa mikroplastik terdeteksi di udara 18 kota di seluruh Indonesia, dengan Jakarta Pusat mencatat konsentrasi tertinggi.

Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Analisis yang dilakukan antara Mei hingga Juli 2025 menunjukkan ukuran mikroplastik yang terdeteksi berkisar antara 0,02 hingga 1,72 milimeter.

Temuan dan Analisis Mikroplastik di Udara

Mikroplastik ditemukan di udara di berbagai lokasi seperti Kupang, Jakarta Pusat, Tadulako, Surabaya, Bulukumba, Malang, Jambi, Palembang, Sidoarjo, Solo, Aceh Utara, Stasiun Manggarai, Denpasar, dan Pontianak.

Berdasarkan data, fragmen, serat, dan film dari kemasan sekali pakai, pakaian sintetis, serta botol plastik menjadi sumber utama partikel mikroplastik tersebut.

Konsentrasi mikroplastik tertinggi tercatat di Jakarta Pusat, dengan nilai 37 partikel dalam dua jam pengukuran. Nilai ini dihimpun dari pengukuran pasif di sejumlah titik, termasuk Pasar Tanah Abang yang terkenal sebagai pusat perdagangan tekstil dan memiliki lalu lintas kendaraan yang tinggi.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Terima Pimpinan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi Buruh

Menurut Ecoton, kondisi di Pasar Tanah Abang menciptakan idealitas untuk pelepasan mikroplastik ke udara melalui aktivitas sehari-hari, termasuk penggunaan plastik sekali pakai dan interaksi ribuan orang setiap hari.

Perbandingan dengan Lokasi Lain

Selanjutnya, mikroplastik terendah tercatat di Malang, dengan hanya dua partikel dalam dua jam pengukuran. Pengukuran dilakukan di Dusun Lowok, Dusun Jatirejo, dan Kelurahan Kiduldalem, di mana kondisi lalu lintas rendah dan aktivitas pembakaran sampah tidak ada.

Pengukuran menunjukkan bahwa di kota besar seperti Jakarta, jumlah mikroplastik yang dihirup manusia cukup signifikan. 'Jika diasumsikan seseorang menghirup sekitar 500 liter udara per jam saat beraktivitas ringan, maka di kota besar seperti Jakarta, udara yang dihirup tidak hanya mengandung debu tetapi juga partikel mikroplastik yang melayang setiap jamnya,' jelas Ecoton.

Dampak Kesehatan dan Tindakan yang Diperlukan

Mikroplastik yang sangat halus berpotensi menyebabkan masalah kesehatan serius. Partikel ini dapat menembus sistem pernapasan dan memicu respon peradangan yang berkepanjangan, berpotensi mengakibatkan kerusakan jaringan dan perubahan perilaku sel epitel.

'Partikel berukuran sangat kecil, termasuk nanoplastik dapat menembus penghalang alveolar–kapiler, masuk ke aliran darah, dan terbawa ke berbagai organ tubuh,’ papar Ecoton dalam laporannya.

Ecoton juga mendesak Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengambil langkah strategis seperti melarang pembakaran sampah di ruang terbuka dan meningkatkan fasilitas pemilahan sampah. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya juga mengkonfirmasi adanya mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.

Baca juga: Google Menanggapi Isu Keamanan Phishing pada Layanan Gmail

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Deteksi Mikroplastik di Udara: Memperhatikan Ancaman Kesehatan di Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!