BMKG Ungkap Penyebab Longsor di Cilacap, Upaya Antisipasi Melalui Operasi Modifikasi Cuaca
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap rangkaian faktor cuaca yang menyebabkan longsor di Cilacap, Jawa Tengah, setelah hujan berkepanjangan. Para ahli menegaskan bahwa kondisi tanah yang basah memicu potensi pergerakan tanah.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Menandai Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menginformasikan bahwa curah hujan tinggi menjadikan lereng di Kecamatan Majenang sangat rawan longsor, di mana hujan lebat pada 10-11 November mencatat curah hujan mencapai hampir 100 mm per hari.
BMKG mencatat hujan tinggi pada 10-11 November 2023 mencapai 98,4 mm per hari dan 68 mm per hari. Sisa hujan ringan yang terjadi setelahnya membuat tanah tetap jenuh air hingga akhirnya terjadi longsor.
Kondisi atmosfer yang mendukung hujan lebat menjadi faktor utama dalam kejadian ini. Guswanto menyoroti adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) dan pusaran angin yang memperkuat pembentukan awan hujan, sehingga curah hujan meningkat dengan signifikan.
Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online
Andri Ramdhani, Direktur Meteorologi Publik BMKG, mengingatkan bahwa kelembapan udara yang sangat tinggi turut meningkatkan potensi hujan lebat. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprediksi akan kembali terjadi antara 19-22 November 2023, yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
BMKG juga merencanakan untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mengurangi risiko hujan deras yang berpotensi menimbulkan longsor susulan. Tri Handoko Seto dari BMKG menegaskan bahwa skema OMC akan difokuskan pada perlindungan daerah-daerah rawan longsor.
BMKG mengimbau agar masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi terkait meningkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana. Kepala Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung, Bagus Pramujo, menegaskan bahwa BMKG akan terus memberikan informasi cuaca harian agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi yang tepat.
Selain itu, BMKG juga mendeteksi Bibit Siklon Tropis 97S dan 98S yang dapat menimbulkan cuaca ekstrem dalam waktu dekat. Guswanto menekankan bahwa meskipun peluang berkembang menjadi siklon masih rendah, dampaknya terhadap beberapa wilayah tetap perlu diperhatikan.
Baca juga: Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Ditangkap: Tuduhan Provokasi dan Tindakan Anarkis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: