Sabtu, 21 FEBRUARI 2026 • 14:12 WIB

Inovasi Dalam Penelitian Penyakit Saraf Melalui Pengembangan Mini Otak Buatan

Author

Inovasi Dalam Penelitian Penyakit Saraf Melalui Pengembangan Mini Otak Buatan

Sekelompok ilmuwan berhasil melatih jaringan otak buatan terkecil untuk menyelesaikan tugas sederhana menggunakan sinyal listrik. Penemuan ini mengarah pada pemahaman lebih dalam mengenai dampak penyakit saraf terhadap proses belajar otak.

Baca juga: Penangkapan Profesor R, Koordinator Pembuatan Bom Molotov dalam Aksi Demo Ricuh di Jakarta

Mini otak yang digunakan dalam studi ini diciptakan dari sel punca tikus yang dibentuk menjadi struktur jaringan otak, menawarkan prospek baru untuk penelitian neurobiologi.

Pengembangan Mini Otak Buatan

Mini otak yang diteliti bukan berasal dari jaringan manusia, melainkan dari sel punca yang diambil dari tikus. Ini memungkinkan para peneliti untuk menghasilkan kelompok jaringan otak kecil yang dapat berfungsi dalam konteks tertentu.

Walaupun mini otak ini tidak sekompleks otak manusia dalam hal berpikir atau merasakan, ia tetap dapat mengirim dan menerima sinyal listrik. Selain itu, koneksi di dalamnya dapat beradaptasi terhadap rangsangan dari lingkungan luar.

Peneliti mengaitkan mini otak tersebut ke simulasi keseimbangan virtual, dimana sistem ini menuntut kemampuan mini otak untuk menyeimbangkan objek, mirip dengan menyeimbangkan penggaris di telapak tangan.

Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Pertimbangan Penting untuk Pelari

Metodologi Penelitian dan Temuan

Dalam penelitian yang berjudul 'Goal-Directed Learning in Cortical Organoids', para ilmuwan menerapkan sinyal listrik untuk memberi tahu mini otak mengenai kemiringan tiang virtual. Respons yang dihasilkan diterjemahkan menjadi instruksi untuk menggerakkan kereta virtual ke arah yang tepat.

"Kami mencoba memahami dasar-dasar bagaimana neuron dapat disesuaikan secara adaptif untuk memecahkan masalah," ungkap Ash Robbins, Peneliti Robotika dan Kecerdasan Buatan dari University of California Santa Cruz.

Peneliti membagi mini otak dalam tiga kelompok percobaan: tanpa umpan balik, umpan balik acak, dan umpan balik adaptif berdasarkan kinerja. Pendekatan ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas berbagai jenis umpan balik dalam meningkatkan pembelajaran.

Hasil Penelitian dan Implikasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mini otak yang tidak mendapatkan panduan hanya berhasil mencapai tolok ukur 2,3 persen, sedangkan yang menerima umpan balik acak mencapai 4,4 persen. Ini menggambarkan tantangan dalam pengembangan sistem belajar yang lebih kompleks.

Sebaliknya, mini otak yang mendapatkan umpan balik adaptif mencapai kinerja yang jauh lebih tinggi, yaitu 46 persen. "Ketika kami bisa secara aktif memilih rangsangan pelatihan, kami benar-benar bisa membentuk jaringan untuk memecahkan masalah," jelas Robbins.

Walaupun hasil penelitian ini menjanjikan, terdapat batasan signifikan, yakni mini otak yang telah dilatih dapat cepat 'lupa' jika tidak aktif dalam jangka waktu 45 menit.

Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat untuk Polisi Terluka dalam Demonstrasi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU