Pengalaman patah hati adalah fenomena yang umum dialami oleh banyak individu, dengan lebih dari 80% orang di dunia merasakannya. Dampak dari perasaan ini tidak hanya berkaitan dengan emosi, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Penelitian menunjukkan bahwa rasa sakit yang timbul akibat kehilangan, baik itu putus cinta, keretakan hubungan, atau kehilangan orang yang dicintai, memiliki dasar ilmiah yang mendasarinya. Hal ini menjelaskan mengapa perasaan sedih tersebut dapat terasa sangat mendalam dan sulit diatasi.
Hubungan Antara Nyeri Fisik dan Emosional
Dalam siniar Chasing Life, Dr. Yoram Yovell, seorang psikiater dan ahli neurosains, menjelaskan bahwa nyeri emosional memiliki realitasnya sendiri. "Tanyakan kepada seseorang tentang hal paling menyakitkan yang pernah terjadi dalam hidup mereka," kata Dr. Yovell. "Mereka tidak akan menceritakan tentang kecelakaan kendaraan atau operasi medis, tetapi mereka akan bercerita tentang seseorang yang mereka cintai dan telah hilang."
Penelitian neurobiologi menunjukkan bahwa mekanisme dalam otak yang terlibat dalam nyeri fisik sangat berkaitan erat dengan nyeri emosional. Ketika seseorang mengalami kehilangan, area otak yang diaktifkan sama seperti ketika mereka mengalami cedera fisik.
Dalam beberapa kasus, duka yang mendalam dapat memicu sindrom takotsubo atau "sindrom patah hati", yang gejalanya mirip dengan serangan jantung. Hal ini menegaskan bahwa rasa sakit mental tidak hanya bersifat emosional, tetapi dapat berimplikasi secara fisik.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN
Peran Sifat Alami Otak dalam Mengatasi Rasa Sakit
Otak manusia dilengkapi dengan sistem pertahanan alami berupa hormon endorfin, yang berfungsi sebagai "opioid alami" dalam menghadapi rasa sakit. Dr. Yovell menekankan bahwa meskipun rasa sakit ini sangat menyakitkan, endorfin jauh lebih efektif dalam meredakan nyeri dan meningkatkan suasana hati dibandingkan dengan obat-obatan narkotika.
"Salah satu hal yang paling membantu adalah terhubung kembali dengan orang lain yang Anda cintai," ujarnya, menekankan pentingnya interaksi sosial dalam proses penyembuhan. Aktivitas sosial dan olahraga yang dapat merangsang produksi endorfin juga merupakan elemen penting untuk mempercepat pemulihan dari patah hati.
Proses social bonding atau keterikatan sosial dianggap sebagai mekanisme tambahan yang mempercepat proses penyembuhan. Dengan dukungan dari orang terkasih, individu dapat lebih mudah menemukan cara untuk menghadapi rasa sakit yang mereka alami.
Dukungan Sosial dalam Proses Pemulihan
Dr. Yovell juga menyarankan agar teman dan keluarga memberikan dukungan meskipun mereka yang berduka mungkin menjauh. "Anda memiliki kekuatan untuk menghibur orang terkasih yang berada dalam tekanan fisik atau emosional yang dalam," tutur Dr. Yovell.
Ia mengingatkan bahwa rasa sakit akut sering kali membantu mengidentifikasi siapa yang benar-benar kita pedulikan. Namun, jika rasa sakit ini berubah menjadi kronis dan memicu keinginan untuk bunuh diri, intervensi medis profesional tentu sangat diperlukan.
Di akhir bincang-bincang, Dr. Yovell memberikan harapan bagi mereka yang sedang berduka. "Hati itu kuat. Memang benar itu menyakitkan. Tapi hati bisa sembuh, dan masih ada orang-orang yang mencintaimu." Pesan ini menekankan bahwa meski rasa sakit dan kehilangan adalah bagian dari kehidupan, dengan dukungan yang tepat, individu dapat melalui masa-masa sulit tersebut.
Baca juga: Polisi Lakukan Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: