Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 14:05 WIB

Narges Mohammadi Dijatuhi Hukuman Penjara Lagi Oleh Pengadilan Iran

Author

Narges Mohammadi Dijatuhi Hukuman Penjara Lagi Oleh Pengadilan Iran

Pemenang Nobel Perdamaian, Narges Mohammadi, kembali dihukum penjara lebih dari tujuh tahun oleh pengadilan di Iran. Vonis ini dikeluarkan di tengah meningkatnya tindakan represif pemerintah terhadap protes yang meluas di negara tersebut.

Baca juga: Penangkapan Profesor R, Koordinator Pembuatan Bom Molotov dalam Aksi Demo Ricuh di Jakarta

Pengacara Mohammadi mengonfirmasi bahwa hukuman tersebut dijatuhkan oleh Pengadilan Revolusi di Mashhad pada tanggal 8 Februari 2026, mencerminkan semakin buruknya kondisi hak asasi manusia di Iran.

Detail vonis Narges Mohammadi

Narges Mohammadi, kini berusia 53 tahun, divonis enam tahun penjara atas tuduhan 'berkumpul dan kolusi'. Selain itu, ia juga terdampak hukuman satu setengah tahun penjara terkait tuduhan propaganda.

Hukuman tersebut disertai larangan bepergian ke luar negeri selama dua tahun serta pengasingan internal ke wilayah Khosf, yang berjarak sekitar 740 kilometer dari ibu kota, Teheran.

Vonis ini dikeluarkan saat Mohammadi melakukan aksi mogok makan sejak 2 Februari 2026, namun ia terpaksa menghentikannya pada 8 Februari karena kondisi kesehatan yang memburuk.

Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil

Reaksi Internasional dan Lokal

Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard, mengecam putusan ini dan menyatakan bahwa hukuman tersebut mencerminkan 'represi mematikan yang kian meningkat' terhadap aktivis di Iran.

Mohammadi dikenal sebagai simbol perjuangan hak asasi manusia di Iran, meskipun pernah mendapatkan cuti medis akibat masalah kesehatan, ia tetap aktif memperjuangkan keadilan bagi perempuan di negaranya.

Walaupun telah menerima berbagai penghargaan internasional, situasi di Iran tetap berbahaya bagi Mohammadi dan aktivis lainnya yang menghadapi tekanan hukum yang berkelanjutan.

Situasi Politik dan Ancaman Nuklir

Sementara itu, ketegangan politik di Iran turut dipengaruhi oleh semakin meningkatnya tekanan akibat program nuklir negara tersebut. Terdapat dorongan besar dari Amerika Serikat agar Iran setuju pada kesepakatan pengaturan pengayaan uranium.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negara tersebut akan terus menolak tekanan dari kekuatan besar, menunjukkan komitmennya untuk tidak mundur menghadapi tantangan ini.

Kemempatan militer AS di wilayah tersebut, termasuk penempatan kapal induk USS Abraham Lincoln, semakin menegaskan niat AS untuk memberikan tekanan lebih lanjut kepada Iran dalam konteks ketegangan yang ada.

Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Insiden Perampokan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU