Mbah Kirno, seorang pria berusia 60 tahun asal Desa Temon, Kabupaten Ponorogo, ditemukan dalam kondisi terkurung selama 20 tahun oleh keluarganya yang percaya bahwa ia memiliki ilmu kanuragan rawarontek.
Baca juga: Desta Sebarkan Tuntutan 17+8 Setelah Hujatan Netizen Terkait Pilihan Politik
Kondisi Mbah Kirno, yang mengalami gangguan jiwa, diketahui melalui video evakuasi oleh Ipda Purnomo, seorang polisi dan pembuat konten, yang menunjukkan proses penolongannya.
Penyekapan dan Penemuan
Keluarga Mbah Kirno menganggapnya berbahaya dan terpaksa mengurungnya karena diyakini memiliki ilmu yang berpotensi mengancam nyawa orang lain. Selama dua dekade, ia dipisahkan dari dunia luar, dengan kebutuhan pokok dipenuhi melalui celah jeruji besi.
Kepercayaan bahwa Mbah Kirno akan sulit dikendalikan jika bebas, menyebabkan keluarga mengabaikan kondisi kesehatan mentalnya. Menurut Ipda Purnomo, masalahnya bukan hanya pada kepercayaan mistis, tetapi juga pada kurangnya akses untuk mendapatkan perawatan yang tepat.
Video evakuasi menunjukkan bagaimana aparat membuka jeruji besi menggunakan alat gerinda, menemukan Mbah Kirno dalam keadaan tidak berdaya, menutupi diri dengan kain sarung. Proses ini mengungkap dampak dari mitos yang mengakibatkan tindakan ekstrem.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN
Mitos Rawarontek dalam Tradisi Lokal
Rawarontek dianggap sebagai ilmu legendaris yang membuat pemiliknya kebal serta mampu beregenerasi, menjadikannya subjek ketakutan di kalangan masyarakat. Mitos mengklaim bahwa jika tubuh pemilik ilmu ini terputus, ia dapat bersatu lagi jika menyentuh tanah.
Berbagai cerita dan kepercayaan mendalam dalam budaya Nusantara menciptakan stigma yang kuat terhadap mereka yang dianggap memiliki kekuatan kanuragan. Penggambaran makam gantung di Jawa Timur menjadi simbol fisik dari pemahaman masyarakat tentang fenomena ini.
Meskipun tampak seperti fiksi, cerita ini menunjukkan kompleksitas pandangan masyarakat terhadap gangguan mental dan mistisisme yang sering kali berujung pada perlakuan yang tidak manusiawi.
Stigma Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)
Kisah Mbah Kirno mencerminkan isu lebih luas yang dihadapi oleh ODGJ di Indonesia, di mana pemahaman yang minim sering memicu pengurungan dan tindakan berat lainnya oleh keluarga. Banyak masyarakat yang tidak tahu cara menangani gangguan kesehatan mental, sehingga tindakan ekstrem menjadi pilihan.
Ipda Purnomo menyuarakan pentingnya perawatan dan pemahaman yang bersifat humanis bagi ODGJ, menyatakan bahwa mereka memerlukan dukungan dampak non-medical selain perawatan medis. Situasi Mbah Kirno menciptakan urgensi untuk edukasi masyarakat mengenai kesehatan mental.
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental akan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan suportif, serta mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Pemblokiran Jalan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: