Dalam beberapa tahun terakhir, banyak individu mulai mengurangi aktivitas mereka di media sosial. Berbagai alasan, mulai dari isu kesehatan mental hingga privasi yang mengkhawatirkan, menjadi pendorong utamanya.
Baca juga: Lima Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Dampak Terhadap Kesehatan Mental
Salah satu faktor yang paling signifikan mengapa banyak orang menjauhi media sosial adalah dampak negatifnya terhadap kesehatan mental. Banyak pengguna merasa terbebani oleh ekspektasi dan tekanan untuk selalu tampil sempurna.
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menimbulkan kecemasan, depresi, dan perasaan kesepian. Dalam upaya mencapai kesejahteraan mental, banyak yang memilih untuk memperpendek waktu online mereka.
Kenneth, seorang psikolog, menyatakan, "Interaksi di dunia maya sering kali berbeda dengan interaksi langsung. Rasa tidak puas dan perbandingan sosial bisa memperburuk kondisi mental seseorang."
Kekhawatiran Terhadap Privasi
Sebuah isu penting yang turut mendorong pengurangan aktivitas di media sosial adalah kekhawatiran terhadap privasi. Banyak pengguna kini menyadari bahwa data pribadi mereka sering kali digunakan secara tidak bertanggung jawab oleh berbagai perusahaan.
Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Kecil
Kekhawatiran akan pengawasan yang meningkat dan risiko pencurian identitas juga makin meresahkan, sehingga orang menjadi lebih berhati-hati saat membagikan informasi di platform sosial. Hal ini semakin menambah ketidaknyamanan dalam berinteraksi di dunia maya.
Rina, seorang pengguna aktif, mengungkapkan, "Saya merasa lebih aman dan tenang tanpa harus membagikan segala sesuatu secara online."
Kembali ke Interaksi Nyata
Kebutuhan untuk menjalin koneksi yang lebih nyata dan mendalam menjadi alasan lain bagi pengurangan aktivitas di media sosial. Banyak individu merasakan bahwa komunikasi melalui layar mengurangi kualitas hubungan yang mereka miliki.
Kegiatan seperti berkumpul dengan teman atau menghabiskan waktu dengan keluarga dinilai lebih berarti dibandingkan sekadar melakukan update status atau memberikan like di media sosial. Penggunaan yang berlebihan terhadap platform ini juga berkontribusi pada lemahnya interaksi sosial.
Ferdy, seorang mahasiswa, mengungkapkan, "Saya lebih suka pergi ke kafe dan ngobrol langsung dengan teman. Itu jauh lebih seru dibandingkan chatting di grup."
Baca juga: Mengenal Finfluencer dan Peranannya dalam Pendidikan Keuangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: