Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah resmi membentuk Dewan Perdamaian Gaza, sebuah langkah strategis untuk meredakan konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut.
Baca juga: Penangkapan Profesor R, Koordinator Pembuatan Bom Molotov dalam Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Pengumuman ini disampaikan melalui platform media sosialnya, Truth Social, di mana Trump mengungkapkan keyakinannya terhadap keunggulan dewan yang baru dibentuk ini.
Pembentukan Dewan Perdamaian
Dewan Perdamaian yang diinisiasi oleh Trump merupakan hasil dari resolusi yang disepakati oleh Dewan Keamanan PBB pada 17 November lalu.
Dalam pernyataannya, Trump menyatakan, 'Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk mengumumkan bahwa DEWAN PERDAMAIAN telah dibentuk.'
Badan ini nantinya akan beroperasi di bawah pengawasan komite teknokrat Palestina yang baru dibentuk, di mana Trump juga akan menjabat sebagai ketua dewan.
Lebih lanjut, Trump menjanjikan bahwa keanggotaan dewan tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat, sambil menyebut dewan ini sebagai 'dewan terhebat dan paling bergengsi' di dunia.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens dari Royal Antwerp
Fase Kedua Gencatan Senjata
Gencatan senjata di Gaza telah memasuki fase kedua, yang diumumkan oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff, pada Rabu (14/1).
Langkah ini merupakan bagian dari agenda lebih besar untuk demiliterisasi dan merekonstruksi Gaza setelah konflik yang berkepanjangan.
'Hari ini, atas nama Presiden Trump, kami mengumumkan peluncuran Fase Dua dari Rencana 20 Poin Presiden untuk Mengakhiri Konflik Gaza,' ujar Witkoff.
Trump juga menerangkan bahwa bantuan kemanusiaan telah berhasil mencapai masyarakat Gaza dalam jumlah yang signifikan selama fase pertama gencatan senjata.
Tantangan di Lapangan
Walaupun telah ada gencatan senjata, laporan dari Kementerian Kesehatan Gaza mengindikasikan adanya angka kekerasan yang tinggi, dengan 451 orang tewas sejak gencatan senjata dimulai.
Pengemukaan warga Palestina sementara itu, menegaskan bahwa perdamaian hanya bisa dicapai jika Israel menarik seluruh pasukannya dari Gaza, sebuah langkah yang menjadi sorotan tajam pihak Israel.
Di sisi lain, reaksi dari kelompok Hamas menunjukkan penolakan terhadap rencana perdamaian ini, citing bahwa disarmament yang diminta oleh Israel dianggap tidak realistis dan tidak dapat dilaksanakan.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran BEM SI: ‘Indonesia (C)emas’ Digelar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: