Jumat, 02 JANUARI 2026 • 20:43 WIB

Tradisi Pembuangan Pakaian di Gunung Sanggabuana: Menyusutnya Makna di Balik Ritual

Author

Tradisi Pembuangan Pakaian di Gunung Sanggabuana: Menyusutnya Makna di Balik Ritual

Di Gunung Sanggabuana, Karawang, sebuah ritual unik melibatkan pembuangan celana dalam sebagai simbol pembuangan sial telah menarik perhatian banyak pihak. Kegiatan ini tidak hanya kaya akan unsur budaya, tetapi juga berpotensi mengancam kelestarian lingkungan di sekitarnya.

Baca juga: Apple Diperkirakan Luncurkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray

Asal Usul Tradisi

Ritual membuang celana dalam di Gunung Sanggabuana telah ada sejak lama, biasa dilakukan pada malam Jum'at kliwon atau menjelang satu suro. Tradisi ini bermula dari kepercayaan peziarah yang meyakini bahwa mandi di mata air gunung dapat menghilangkan kesialan.

Nace Permana, seorang pegiat budaya Karawang, menyatakan, "Jauh sebelum saya lahir ritual itu sudah ada, dan itu dilakukan oleh orang-orang yang mempercayai mitos buang sial dengan buang pakaian usai ziarah ke makom yang ada di Sanggabuana."

Awalnya, peziarah membersihkan diri di tiga pancuran di puncak gunung dan kemudian membuang pakaian mereka setelah mandi, sebagai simbol pelepasan beban sial.

Persepsi dan Praktik Modern

Kini, ritual tersebut tidak terbatas pada hari-hari tertentu, tetapi sering dilakukan secara rutin, dengan kedatangan peziarah dari berbagai daerah yang meningkat pesat. Nace mengungkapkan, "Dulu itu biasanya orang-orang tertentu dan tidak banyak, dan bukan hanya celana dalam dan kutang biasanya juga pakaian yang dia itu dibuang."

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Terima Pimpinan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi Buruh

Praktik kumpulnya peziarah kini melibatkan empat mata air, termasuk Pancuran Emas dan Pancuran Kahuripan, serta sejumlah makam yang terhubung dengan kepercayaan lokal. Meskipun memiliki makna mendalam bagi praktisinya, kebiasaan ini menghasilkan akumulasi sampah yang signifikan di area tersebut.

Hal ini menimbulkan konflik antara praktik budaya dan harusnya menjaga kebersihan lingkungan, yang semakin mendesak untuk diperhatikan oleh semua pihak.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Ritual ini membawa dampak positif bagi ekonomi lokal, di mana warga setempat membuka usaha kuliner dan layanan pemanduan sebagai respons terhadap kedatangan peziarah. Nace menambahkan, "Ramainya peziarah yang datang juga sebenarnya membawa hal positif bagi ekonomi warga, jadi warung ramai yang jajan dan terkadang jadi pengantar atau guide ke pancuran dan dapat upah."

Namun, Pembina Sanggabuana Conservation Foundation, Bernarld T Wahyu, menyatakan bahwa pelaksanaannya telah berubah makna. "Ritual buang celana dalam dan kutang itu semakin menjadi-jadi bahkan kuncen-kuncen baru bermunculan dan mencari pengunjung yang akan ritual demi mendapatkan upah," ujarnya.

Keberadaan praktik ini yang bergeser dari nilai spiritual menjadi komersial menimbulkan risiko bagi lingkungan gunung yang menjadi lokasi ritual tersebut.

Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU