Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, kembali menunjukkan ancaman serius dari gempa bumi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Jakarta memiliki patahan sesar yang aktif dan berpotensi memicu gempa berkekuatan besar.
Baca juga: Kemenperin Konfirmasi iPhone 17 Belum Ajukan Izin Penjualan di Indonesia
Penelitian Sesar Jakarta
Associate Professor di Program Studi Teknik Metalurgi ITB, Endra Gunawan, menjelaskan bahwa penelitian mengenai potensi seismogenik Sesar Jakarta memberikan wawasan penting mengenai mitigasi risiko bencana di wilayah perkotaan yang padat penghuni ini.
Analisis menggunakan metode GNSS slip-rate menunjukkan deformasi kerak di wilayah Jakarta terukur secara periodik. Patahan di bagian selatan Jakarta memiliki laju pergeseran sekitar tiga milimeter per tahun, dengan kedalaman penguncian tujuh kilometer.
Penelitian ini memperkuat urgensi pemantauan berbasis deformasi sebagai fondasi mitigasi modern. Endra menekankan pentingnya penelitian ini agar masyarakat lebih waspada akan potensi bahaya gempa di daerah perkotaan.
Baca juga: Polisi Lakukan Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Sesar Baribis-Kendeng dan Dampaknya
Sesar Baribis-Kendeng, sebagai salah satu sesar utama di pulau Jawa, berpotensi besar dalam mempengaruhi Jakarta. Menurut peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Sonny Aribowo, sesar ini melewati berbagai daerah di Jawa Barat, dan mencakup bagian selatan Jakarta.
Sonny menambahkan bahwa lokasi jalur aktif sesar ini harus diketahui agar kewaspadaan terhadap bahaya gempa dapat ditingkatkan. Penelitian di daerah padat penduduk seperti Jakarta dan Bogor menjadi fokus untuk memahami geografi seismik.
Potensi Gempa di Jakarta
Meskipun Jakarta dikenal sebagai kota metropolitan yang relatif aman, catatan sejarah menunjukkan bahwa kota ini pernah mengalami kerusakan akibat gempa. Menurut catatan, Jakarta telah mengalami beberapa kejadian gempa besar, termasuk yang terjadi pada tahun 1699, 1780, dan 1903.
Keberadaan lempeng tektonik aktif di wilayah Indonesia menjadikan Jakarta rentan terhadap ancaman gempa. Rata-rata BMKG mencatat terjadi sekitar 30 ribu kali gempa setiap tahunnya, meningkatkan kebutuhan akan kesiapsiagaan yang lebih baik.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Insiden Perampokan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: