Di era digital yang terus berkembang, empati sebagai keterampilan interpersonal semakin jarang ditemukan. Masyarakat lebih fokus pada produktivitas, sering kali melupakan pentingnya hubungan emosional antarindividu.
Baca juga: Desta Sebarkan Tuntutan 17+8 Setelah Hujatan Netizen Terkait Pilihan Politik
Kondisi ini menciptakan tantangan besar bagi kita untuk mau memahami dan merasakan perasaan orang lain. Banyak yang terjebak dalam interaksi cepat dan efisien, tanpa menyadari dampak negatifnya terhadap kesehatan mental dan hubungan sosial.
Perubahan Sosial dan Kesehatan Mental
Perubahan sosial yang cepat, terutama akibat pandemi COVID-19, semakin memengaruhi kesehatan mental banyak individu. Isolasi sosial dan meningkatnya stres mengubah fokus banyak orang menjadi lebih egosentris.
Studi menunjukkan bahwa individu yang merasa terasing cenderung kurang peka terhadap perasaan orang lain. Di samping itu, pemakaian media sosial yang semakin meningkat semakin memperlebar kesenjangan dalam hubungan sosial.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Interaksi virtual sering kali kehilangan kehadiran emosional yang dibutuhkan dalam interaksi langsung, membuat pengertian terhadap orang lain menjadi semakin sulit.
Dampak Teknologi terhadap Hubungan Antarmanusia
Teknologi memang memudahkan komunikasi, tetapi sering kali mengurangi kedalaman interaksi. Komunikasi yang cepat dan singkat, misalnya melalui pesan teks, membatasi pemahaman terhadap konteks emosional yang lebih dalam.
Survei dari lembaga riset mencatat banyak responden merasa kesepian meski terhubung dalam dunia digital. Ini menunjukkan bahwa hubungan yang terjalin melalui platform digital tidak mampu menggantikan kedalaman emosi saat berkomunikasi tatap muka.
Pendidikan Keterampilan Emosional
Di lembaga pendidikan, keterampilan emosional sering kali tidak diutamakan seperti kemampuan akademik. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih dijadikan fokus, sambil mengabaikan pentingnya empati dalam kurikulum.
Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang terlatih untuk memahami dan menghargai perasaan orang lain sering kali mencapai performa akademik lebih baik. Kondisi ini menciptakan siklus di mana kurangnya perhatian terhadap empati menghasilkan individu yang kesulitan menjalin hubungan yang sehat.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens dari Royal Antwerp
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: