Film Horor 'Songko': Menggali Cerita Legenda Minahasa di Layar Lebar
Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan film horor yang terinspirasi dari kekayaan budaya lokal. Film berjudul 'Songko' diproduksi oleh rumah produksi muda, Santara, dan dijadwalkan tayang di bioskop pada 23 April 2026.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Mengambil latar belakang cerita rakyat dari Sulawesi Utara, khususnya Minahasa, film ini diharapkan dapat mengangkat cerita-cerita daerah yang jarang tersorot ke layar lebar dengan pendekatan yang autentik.
'Songko' merupakan penggambaran dari cerita legenda yang berkembang di Sulawesi Utara. Gerald Mamahit, sang sutradara, menjelaskan, "Songko adalah cerita yang sangat dekat dengan budaya dan legenda masyarakat Minahasa."
Dengan film ini, Gerald berupaya untuk menampilkan kekayaan cerita rakyat dari Indonesia Timur secara lebih mendalam. Santara, sebagai rumah produksi, melihat potensi besar dalam menyajikan kisah-kisah daerah yang jarang diangkat ke layar lebar.
Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk menghibur, tetapi juga untuk memberi wadah bagi talenta lokal agar kisah yang dihadirkan lebih autentik dan dekat dengan kultur masyarakat.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025
Dalam film ini, Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak berperan sebagai pemeran utama. Setiap aktor merasa terhubung dengan kedekatan cerita pada kehidupan masyarakat setempat.
Khiva Iskak menyatakan, "Yang membuat film ini menarik adalah karena kisahnya berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat." Suasana syuting yang intens di Tomohon sangat mendukung atmosfer cerita.
Annette Edoarda juga menyoroti keunikan narasi, mengungkapkan, "Songko bukan hanya film horor biasa. Ceritanya tentang ketakutan, tuduhan, dan bagaimana sebuah desa bisa terpecah karena teror yang tidak mereka pahami."
Sebagai bagian dari komitmen terhadap cerita lokal, Santara telah membangun area set di kaki Gunung Lokon sebagai infrastruktur kreatif yang berkelanjutan. Ini tidak hanya menjadikan lokasi syuting, tetapi juga mendukung ekosistem perfilman daerah.
Langkah ini bertujuan untuk melibatkan cast dan crew dari Minahasa, Manado, dan Tomohon, menciptakan ruang kolaborasi bagi para talenta lokal dalam produksi film layar lebar.
Film ini berlatar pada tahun 1986, menggambarkan sebuah desa di Tomohon yang dilanda teror. Warga setempat percaya bahwa kematian perempuan muda disebabkan oleh Songko, makhluk yang berusaha meraih kekekalan.
Baca juga: Perekrutan Kiper Baru oleh Manchester United dan Manchester City Jelang Penutupan Bursa Transfer
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: