Cerita Kehidupan Stephen Crohn: Pria Kebal AIDS yang Mengakhiri Hidupnya
Stephen Crohn, seorang seniman dan aktivis asal Amerika Serikat, dikenal sebagai individu yang memiliki mutasi genetik langka sehingga tubuhnya kebal terhadap HIV.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta
Namun, di usia 66 tahun, keputusan tragisnya untuk mengakhiri hidup menimbulkan banyak pertanyaan tentang beban psikologis yang dialaminya selama bertahun-tahun menyaksikan orang-orang terdekatnya meninggal akibat AIDS.
Stephen Crohn memiliki mutasi genetik yang membuat sel-sel tubuhnya kebal terhadap HIV. Keterlibatannya sebagai objek studi di New York University Medical Center tentunya memberikan kontribusi signifikan terhadap penelitian medis.
Berkat partisipasinya, para ilmuwan dapat memahami lebih dalam tentang mekanisme kekebalan terhadap HIV, yang berujung pada pengembangan pengobatan modern untuk penyakit ini, termasuk obat-obatan penghambat CCR5.
Walaupun banyak rekan-rekan dan pasangan Stephen terinfeksi dan meninggal akibat AIDS pada era awal epidemi, ia tetap tidak terinfeksi. Keberadaannya memberikan harapan baru dalam penelitian virologi dan imunologi.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video Parodi
Di dalam wawancara pada tahun 1999 untuk film dokumenter 'Surviving AIDS', Stephen menyampaikan beban emosionalnya dengan menyatakan, 'Setiap tahun akan kehilangan, enam orang, tujuh orang... Ini nggak gampang ketika Anda kehilangan teman-teman.'
Merasa bersalah atas keberlangsungan hidupnya di tengah banyaknya kematian yang terjadi di sekitarnya, Stephen menghadapi konflik batin dan beban emosional yang berat. Rasa kehilangan terus membayangi kehidupannya, menambah tekanan psikologis yang dialaminya.
Lebih jauh, Dr. Bill Paxton dari Aaron Diamond AIDS Research Center menjelaskan bahwa Stephen tidak pernah terinfeksi AIDS, meskipun ia pernah sengaja dipaparkan virus HIV untuk keperluan penelitian.
Pada 23 Agustus 2013, keputusan Stephen untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri menimbulkan banyak spekulasi. Analisis mengenai latar belakang keputusannya menunjukkan bahwa rasa bersalah yang mendalam bisa menjadi penyebab utama.
Amy Crohn, saudara perempuannya, mengungkapkan, 'Mungkin ini alasan dia (bunuh diri),' merujuk kepada penderitaan bertahun-tahun yang dialami Stephen. Kondisi mentalnya yang telah tersiksa, ditambah dengan kehilangan yang terus-menerus, akhirnya menghantui keputusannya.
Stephen dikenal sebagai pelukis dan editor lepas untuk Fodor’s Travel Guides. Ia menghabiskan masa kecilnya di Dumont sebelum menetap di New York, dan pada akhir hayatnya, tinggal di Saugerties, tempat di mana ia mengakhiri kehidupannya yang penuh tantangan.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille, Klub Penuh Prestasi di Prancis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: