Dampak Positif Puasa Ramadan terhadap Kesehatan Jantung
Puasa Ramadan memiliki dampak yang signifikan tidak hanya pada aspek spiritual, tetapi juga bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik puasa memiliki manfaat kesehatan yang dapat diukur secara ilmiah.
Baca juga: Desta Sebarkan Tuntutan 17+8 Setelah Hujatan Netizen Terkait Pilihan Politik
Salah satu studi yang diterbitkan dalam Journal of the American Heart Association pada tahun 2021 membuktikan adanya hubungan antara puasa Ramadan dan penurunan tekanan darah. Temuan ini memperkuat pemahaman akan efek positif puasa terhadap kesehatan kardiovaskular.
Studi besar yang dikenal dengan nama London Ramadan Study (LORANS) menunjukkan bahwa puasa Ramadan berkaitan langsung dengan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik. Pengukuran yang dilakukan terhadap 3.213 partisipan meliputi individu sehat serta mereka yang mengidap hipertensi dan diabetes.
Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa puasa Ramadan relatif aman bagi kesehatan kardiovaskular. Namun, penurunan tekanan darah yang tersaji tidak menunjukkan dampak yang sama pada pasien dengan penyakit ginjal kronis.
"Studi ini menunjukkan puasa Ramadan memberikan efek menguntungkan terhadap tekanan darah, terlepas dari perubahan berat badan, total cairan tubuh, maupun massa lemak," demikian bunyi laporan penelitian tersebut.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Pemblokiran Jalan
Dr. Babar Basir dari Henry Ford Health di Detroit menjelaskan bahwa puasa dapat dianggap aman bagi pasien jantung, dengan catatan harus dilakukan konsultasi medis terlebih dahulu. Hal ini terutama penting untuk mereka yang sedang menjalani pengobatan aktif.
"Secara historis, sudah terbukti berulang kali bahwa puasa sebenarnya sangat aman bagi kebanyakan orang," jelas Dr. Babar, menekankan pentingnya pendekatan yang diperhitungkan ketika melakukan puasa.
Meskipun manfaat puasa cukup banyak, sangat penting bagi setiap individu untuk mempertimbangkan kondisi kesehatan mereka saat melaksanakan puasa.
Ahli gizi Dr. Manal Elfakhani dari Penn State University menekankan bahwa sahur merupakan waktu penting untuk asupan energi sebelum berpuasa. Ia merekomendasikan menyusun sahur dengan biji-bijian utuh, buah atau sayuran, serta sumber protein.
"Sahur adalah kesempatan terakhir untuk memberi asupan energi bagi tubuh sepanjang hari," ungkap Dr. Elfakhani, menyiratkan pentingnya kecukupan asupan cairan.
Saat berbuka puasa, sangat dianjurkan untuk memilih makanan bergizi seimbang. Para ahli gizi memperingatkan akan bahaya mengonsumsi makanan berat atau terlalu banyak yang digoreng agar terhindar dari risiko kesehatan.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video Parodi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: