Kontroversi Pernyataan Alumni Beasiswa LPDP Memicu Kritikan Publik
Pernyataan salah satu alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS di Inggris baru-baru ini mengundang kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Tanggapan dan Komitmen Reformasi
Dalam video yang viral, DS menyarankan agar anak-anaknya tidak menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), yang menimbulkan pertanyaan besar mengenai komitmen para alumni LPDP terhadap bangsa.
Ucapan DS dalam video tersebut menyebutkan, "Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu...". Pernyataan ini langsung memicu reaksi negatif dari publik di media sosial.
Meskipun video tersebut segera dihapus, dampak dari pernyataan ini telah menciptakan perdebatan luas mengenai tanggung jawab alumni yang menerima beasiswa pemerintah dalam konteks pengabdian kepada negara.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Suami DS, berinisial API, juga merupakan alumni LPDP yang berhasil menyelesaikan studi S2 di Utrecht University serta meraih gelar PhD pada tahun 2022. Dalam tesisnya, API menyampaikan ucapan terima kasih kepada LPDP atas dukungan finansial yang diberikan.
Saat ini, API menjabat sebagai Postdoctoral Researcher di University of Exeter sejak Oktober 2022. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan terkait tanggung jawab pengabdian yang menjadi kewajiban alumni setelah menyelesaikan pendidikan.
LPDP telah menetapkan kewajiban bagi para awardee untuk berkontribusi di tanah air setelah menyelesaikan pendidikan. Anggi Afriansyah, seorang sosiolog pendidikan dari BRIN, menegaskan bahwa alumni diharuskan mengisi dokumen komitmen untuk kembali dan berkontribusi di Indonesia.
Sementara itu, alumni diperbolehkan melakukan penelitian luar negeri dengan syarat tertentu, termasuk batas waktu maksimal 24 bulan tanpa melanggar komitmen. Ini memberikan kesempatan bagi alumni untuk mengembangkan inovasi di luar batas negara.
Namun, Anggi menekankan pentingnya pengawasan yang ketat dari LPDP untuk memastikan alumni memenuhi komitmen mereka. Tanpa pengawasan yang memadai, ada risiko alumni dapat lebih lama tinggal di luar negeri tanpa melaksanakan kewajibannya.
Baca juga: Pihak Unisba dan Unpas Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kampus Saat Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: