Peneliti Mengungkap Perjalanan Paus Biru Kerdil Menempuh Ribuan Kilometer di Indonesia
Tim peneliti telah mengungkap fakta baru mengenai paus biru kerdil yang menjelajahi wilayah seluas 2.000 kilometer dalam waktu sembilan hari di Indonesia.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Riset ini, yang berlangsung pada tahun 2025, memberikan wawasan penting tentang perlunya perlindungan terhadap satwa migrasi melalui pendekatan berbasis data.
Riset yang bertajuk Ekspedisi Spesies Laut Bermigrasi 2025 di Bentang Laut Sunda Kecil berhasil memasang tag satelit berbasis drone pada paus biru kerdil di Laut Sawu. Penandaan dilakukan pada tanggal 13 Oktober 2025, dengan data terakhir diterima pada tanggal 22 Oktober 2025.
Meskipun hanya satu dari empat tag yang direncanakan berhasil terpasang, para peneliti menerapkan metode pemasangan ini karena sifatnya yang less-invasif. "Meski hanya satu dari empat tag satelit yang direncanakan berhasil terpasang, tetapi ini dapat membuktikan bahwa pemasangan tag satelit berbasis drone yang lebih less-invasif bisa dilakukan," ungkap Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa paus biru kerdil mampu menempuh perjalanan lebih dari 2.000 kilometer hanya dalam sembilan hari pemantauan. Hal ini menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam perlindungan satwa migrasi.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Bentang Laut Sunda Kecil, yang menjadi lokasi penelitian, merupakan jalur migrasi penting bagi berbagai spesies laut, termasuk paus, lumba-lumba, dan hiu paus. Dinamika arus dan topografi bawah laut menciptakan wilayah produktif bagi spesies-spesies ini.
"Namun ada tantangan terbesar dalam riset ini, yaitu presisi dan waktu," jelas Edy Setyawan, peneliti dari Elasmobranch Institute Indonesia. Pemasangan tag membutuhkan kecepatan tinggi untuk meminimalkan gangguan pada paus.
Selama ekspedisi, peneliti mencatat variasi perilaku paus biru kerdil di berbagai lokasi. Di tenggara Pulau Wetar, paus terlihat beristirahat di permukaan, sedangkan di Laut Sawu, mereka cenderung terus bergerak.
Data tentang pergerakan paus membawa implikasi signifikan bagi kebijakan pengelolaan sumber daya laut di Indonesia. Jalur migrasi yang teridentifikasi dapat dibandingkan dengan jalur pelayaran dan area penangkapan ikan untuk menghindari potensi tumpang tindih yang membahayakan paus.
Rusydi, perwakilan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Kupang, menegaskan pentingnya perlindungan terhadap wilayah dengan tingkat sighting tinggi. "Data ini membantu penyusunan kebijakan wisata pengamatan paus agar tetap berkelanjutan dan tidak mengganggu satwa," katanya.
Iqbal menambahkan bahwa informasi dari riset ini sangat berharga untuk menetapkan area penting bagi paus biru kerdil serta mendukung pengembangan ekonomi biru yang lebih terarah.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Insiden Perampokan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: