Kategori Berita
Jumat, 13 FEBRUARI 2026 • 15:41 WIB

Krisis Iklim: Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis di Indonesia Makin Meningkat

Krisis Iklim: Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis di Indonesia Makin MeningkatKrisis Iklim: Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis di Indonesia Makin Meningkat

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan bahwa hujan ekstrem dan frekuensi siklon tropis yang meningkat di Indonesia adalah konsekuensi langsung dari perubahan iklim global.

Baca juga: Kasus Tragis Pengemudi Ojek Online Terlibat Oknum Anggota Brimob Menuju Jalur Pidana

Menurut para ahli, dampak ini sangat signifikan terhadap bencana hidrometeorologi yang sering terjadi di berbagai wilayah Tanah Air.

Peningkatan Intensitas Hujan dan Siklon Tropis

Eddy Hermawan, Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menyatakan bahwa fenomena hujan berintensitas tinggi adalah hasil nyata dari krisis iklim. 'Global warming bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi aksi nyata di atmosfer,' ujarnya.

Ia mencatat bahwa beberapa siklon tropis seperti Seroja, Cempaka, dan Dahlia telah menimbulkan kerugian signifikan, khususnya di Jakarta dan pantai utara Jawa. Hujan ekstrem dalam waktu singkat biasanya dipicu oleh gelombang atmosfer ekuatorial.

Sementara itu, hujan berkepanjangan dipengaruhi oleh fenomena iklim lebih besar seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD). 'Kalau hujannya berhari-hari, itu bukan sekadar gelombang atmosfer,' jelasnya.

Baca juga: Polisi Lakukan Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni

Pengaruh Geografis dan Angin

Indonesia berada di jalur Asian Monsoon yang memungkinkan uap air dari Asia mengalir ke Jakarta, yang merupakan daerah dataran aluvial dengan pantai landai. 'Kondisi tersebut memicu terbentuknya pusat tekanan rendah,' kata Eddy.

Ia menambahkan bahwa pusaran atmosfer dapat mengurangi daya dukung lingkungan dan menghasilkan hujan lebat yang terakomodasi dalam satu kawasan. Perpaduan antara angin baratan dan timuran menciptakan pusaran angin kuat.

Hasilnya, Jakarta semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi akibat kombinasi hujan deras dan lanskap urban dengan kemampuan daya serap air yang rendah.

Upaya Mitigasi dan Saran Kebijakan

Eddy menekankan perlunya transformasi sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi sebagai langkah respons terhadap ancaman ini. 'Pendekatan konvensional tidak lagi memadai,' tegasnya.

Ia mendorong pemanfaatan teknologi terkini, seperti AI, big data, dan machine learning untuk meningkatkan akurasi dalam prediksi cuaca. Hasil riset yang dilakukan oleh BRIN diharapkan dapat membantu dalam mitigasi bencana.

Selain itu, Eddy mengingatkan bahwa masalah banjir tidak hanya disebabkan oleh hujan deras tetapi juga oleh perubahan tutupan lahan, yang berakibat pada berkurangnya daya serap air. 'Lanskap perkotaan Jakarta belum sepenuhnya siap menghadapi beban dari fenomena hidrometeorologi ekstrem,' pungkasnya.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Pemblokiran Jalan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Krisis Iklim: Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis di Indonesia Makin Meningkat

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!