Pentingnya Waspadai Sakit Dada Sebagai Tanda Awal Serangan Jantung
Masyarakat sering kali menganggap nyeri dada sebagai gejala 'masuk angin' atau 'angin duduk'. Namun, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal serangan jantung yang memerlukan perhatian medis segera.
Baca juga: Kemenperin Konfirmasi iPhone 17 Belum Ajukan Izin Penjualan di Indonesia
Spesialis jantung menegaskan bahwa pengabaian terhadap keluhan ini dapat berakibat fatal dan menghimbau masyarakat untuk lebih waspada serta cepat mendapatkan penanganan yang tepat.
Di Indonesia, nyeri dada sering kali diasosiasikan dengan istilah 'masuk angin' atau 'angin duduk'. Menurut dr. Yislam Aljaidi, spesialis jantung dan pembuluh darah, keluhan ini kerap disertai gejala lain seperti sakit punggung, meriang, dan keringat dingin.
Namun, dr. Yislam mengingatkan bahwa tanda-tanda tersebut bisa menjadi indikasi awal serangan jantung dan tidak sepatutnya dianggap sepele. "Karena keluhannya nyeri dada nggak nyaman, bisa menjalar ke bahu, bisa ke leher, ke punggung. Ditambah seolah-olah mirip gejala 'masuk angin'".
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia untuk Memperkuat Timnas
Salah satu risiko terbesar dari penanganan yang keliru terhadap gejala serangan jantung adalah hilangnya waktu yang sangat berharga. dr. Yislam menekankan bahwa ketidaknyamanan yang dirasakan sering kali diatasi dengan cara yang tidak sesuai, seperti menggunakan metode kerokan.
"Makanya dianggap kayak 'angin duduk' karena pada saat itu dia dikerokin saja. Sementara jantung itu butuh waktu yang critical, cepat dibawa ke rumah sakit," ungkapnya.
Setiap detik yang terlewat dapat meningkatkan risiko terjadinya henti jantung, yang bisa berujung pada kematian mendadak.
Banyak orang merasa nyaman setelah melakukan kerokan, namun dr. Yislam menegaskan bahwa metode ini tidak menyelesaikan masalah penyumbatan jantung. "Kalau dikerok, pembuluh darah yang di dalam (jantung) tetap tersumbat. Kerokan itu cuma persepsi masing-masing orang dan sebenarnya sugesti saja," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kerokan dapat memicu risiko peradangan kulit hingga infeksi, terutama jika alat yang digunakan tidak steril. Dengan demikian, kerokan bukanlah solusi yang aman bagi mereka yang mengalami gejala serangan jantung.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Dugaan Penghasutan Massal yang Memicu Kontroversi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: