Penyaluran Kredit Terhambat Meski Likuiditas Perbankan Melimpah
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyatakan bahwa kendala dalam penyaluran dana ke sektor riil tetap ada meskipun likuiditas di perbankan cukup melimpah.
Baca juga: Kemenperin Konfirmasi iPhone 17 Belum Ajukan Izin Penjualan di Indonesia
Ia menegaskan bahwa meski kebijakan untuk mendukung likuiditas telah diterapkan, pertumbuhan kredit hingga kini masih jauh dari optimal.
Destry Damayanti menambahkan bahwa sepanjang 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 125 basis points menjadi 4,75%.
Langkah ini diharapkan dapat mendukung likuiditas di perbankan, namun transmisi kepada sektor riil masih lambat.
BI juga melaksanakan kebijakan likuiditas makroprudensial senilai Rp 338 triliun untuk menjaga keseimbangan di pasar.
Dalam paparan tersebut, Destry menyatakan, "landing rate kok belum turun, bank ada yang mampet," mencerminkan situasi sulit dalam penyaluran kredit.
Berdasarkan data yang disampaikan, pertumbuhan kredit pada 2025 hanya mencapai 9,69% secara tahunan, mengalami pelambatan dibandingkan dengan 10,93% pada 2024.
Baca juga: Korea Selatan Bersiap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Namun, Destry tidak memberikan rincian mengenai penyebab pasti dari masalah ini.
Kondisi ini tetap menjadi perhatian bagi pihak pemerintah serta otoritas moneter yang berupaya mencari solusi untuk meningkatkan penyaluran kredit.
Berbagai faktor yang mempengaruhi situasi ini akan terus dipantau untuk mendorong pertumbuhan yang lebih baik di masa mendatang.
Dalam menghadapi permasalahan ini, pemerintah dan otoritas moneter telah membentuk tim debottlenecking yang bertugas mengatasi berbagai hambatan yang terdapat dalam sektor bisnis.
Tim ini termasuk dalam upaya percepatan program strategis pemerintah (P2SP).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: