Pengalaman Ressa Rizky Rossano Sebagai Sopir Neneknya di Tengah Tantangan Ekonomi
Ressa Rizky Rossano menuturkan pengalamannya menjadi sopir untuk neneknya, mendiang Emilia Contessa, yang meninggal dunia baru-baru ini. Momen ini meski menyentuh hati, ia lakukan untuk menghadapi tantangan cicilan mobil yang harus dibayarnya.
Baca juga: Sidang Kode Etik Polri Terkait Kematian Pengemudi Ojek Online
Dalam wawancara program Pagi Pagi Ambyar, Ressa menjelaskan kondisi keuangannya yang membuatnya terpaksa berusaha lebih keras. Ia meraih gaji Rp 2 juta per bulan dari pekerjaan tersebut.
Ressa Rizky Rossano berbagi tentang perjalanan emosionalnya saat menjadi sopir untuk neneknya, Emilia Contessa. Ia mengaku, 'Sudah tahu (Emilia neneknya), hancur pasti,' saat menyadari posisinya.
Ressa menerima pekerjaan itu karena kebutuhan mendesak untuk membayar cicilan yang terutang. 'Tapi karena Ressa harus membayar cicilan (mobil) juga, jadi Ressa fokus ke sana aja, kerja aja,' ujarnya, menyoroti pentingnya tanggung jawab finansial.
Emilia yang mencalonkan diri sebagai anggota Dewan memutuskan untuk mempekerjakan Ressa, menawarkan gaji bulanan untuk mendukungnya. Gaji yang ia terima, yakni Rp 2 juta per bulan, dinilai sebagai langkah untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pada Ressa.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer
Adik Denada, Enrico Tambunan, menekankan bahwa pengangkatan Ressa sebagai sopir bukanlah eksploitasi. 'Dia mau mengajarkan kepada anaknya, cucu-cucunya, keponakan-keponakannya, untuk rajin bekerja,' ungkap Enrico tentang maksud sebenarnya di balik keputusan tersebut.
Ia menambahkan, 'Tujuannya supaya hei, enak kan kalau dapat upah, makanya kerja lebih rajin,' yang menunjukkan filosofi di balik pengajaran mendiang ibunya.
Enrico juga menggarisbawahi bahwa niat mendiang ibunya sering kali disalahartikan oleh masyarakat. 'Secara tulus, itu adalah niat baik mama saya, tidak ada dia berniat jahat sama keluarga besarnya,' jelasnya.
Ressa menyadari bahwa setiap pengalaman, baik buruk maupun baik, menawarkan pelajaran berharga. Ia tidak menganggap gaji kecil sebagai hambatan dalam mencapai cita-cita.
'Yang dia mau adalah ngajakin keluarganya kerja kecil-kecilan, sedikit-sedikit, sehingga mendapatkan gaji,' kata Enrico menekankan pandangan Ressa lebih jauh.
Pandangan keluarga terhadap situasi ini merefleksikan pentingnya kerja keras dan akuntabilitas. Meskipun pekerjaan yang dijalani sederhana, Ressa dan keluarganya berharap dapat mencapai masa depan yang lebih baik melaluinya.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Terima Pimpinan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi Buruh
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: