CEO OpenAI Ekspresikan Nostalgia atas Peluncuran Fitur Koding Otomatis
Sam Altman, CEO OpenAI, mengungkapkan perasaan sedih dan nostalgia saat meluncurkan fitur koding otomatis berbasis AI yang dikenal sebagai Codex, dalam sebuah cuitan di media sosial pada Selasa, 3 Februari 2026.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Perdebatan Selebritas di DPR dan Tantangan Akuntabilitas
Altman menekankan bahwa Codex mampu menghasilkan ide-ide lebih baik dari sumber daya manusia, menimbulkan kekhawatiran terkait relevansi kemampuan manusia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan.
Codex dirancang untuk membantu developer dalam menulis kode, memperbaiki bug, dan menjawab pertanyaan teknis. Altman mempertanyakan relevansi penciptaan manusia saat alat ini dapat menghasilkan solusi yang lebih efektif.
Mengungkapkan perasaannya, ia menyatakan, "Saya yakin kita akan menemukan cara yang jauh lebih baik dan lebih menarik untuk menghabiskan waktu kita," mencerminkan antusiasmenya terhadap inovasi teknologi.
Namun, seraya mengakui perkembangan ini, ia menambahkan, "Tetapi saya merasa nostalgia untuk masa kini," menandakan ketidakpastian akan perubahan yang akan datang dalam industri teknologi.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025
Cuitan Altman tersebut menarik perhatian beragam reaksi dari pengguna media sosial, di mana sebagian di antaranya mengekspresikan keprihatinan tentang kemungkinan hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi.
Salah satu pengguna menulis, "Semoga cepat sembuh," menunjukkan tanggapan sarkastik terhadap kekhawatiran yang muncul di tentang dampak otomatisasi.
Di sisi lain, insinyur dari OpenSea menyatakan, "Saya rasa Anda bisa menangis di atas tumpukan uang yang besar, sementara saya akan mengobrol dengan bot percakapan selama sisa karierku," menggambarkan ketidakpastian yang melanda para profesional di bidang teknologi.
Perdebatan seputar perubahan dukungan OpenAI terhadap model kecerdasan buatan juga mencuat, dengan rencana untuk menghentikan dukungan beberapa model chatbot yang telah ada.
Blogger kuliner, Chrisy Toombs, mengkritik kebijakan tersebut dengan menulis, "Semua itu karena Anda melatih model Anda tanpa persetujuan siapa pun," mencerminkan ketidakpuasan terkait penggunaan konten yang tidak etis.
Tanggapan yang mengemuka menunjukkan adanya keresahan yang mendalam di kalangan pengguna terkait arah pengembangan teknologi AI, yang dianggap berpotensi merugikan karier di masa depan.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Dampaknya di Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: