Kepadatan Kapal di Pelabuhan Muara Angke: Penyebab dan Implikasi bagi Nelayan
Kepala Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan (UP3) Muara Angke menjelaskan bahwa kepadatan kapal di pelabuhan disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk cuaca ekstrem yang terjadi antara Desember 2025 hingga Januari 2026.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Terima Aspirasi Mahasiswa Terkait Demonstrasi dan Tunjangan Anggota
Hal ini memaksa banyak kapal untuk menunggu berhari-hari sebelum bisa bersandar, mengganggu aktivitas nelayan dan bisnis perikanan.
Kepala UP3 Muara Angke, Mahad, mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem menyebabkan penundaan keberangkatan kapal. Selain itu, ada kapal yang belum memenuhi dokumen persyaratan untuk berlayar.
Akibat dari kondisi ini, kapal-kapal yang kembali dari laut kesulitan untuk mengisi perbekalan di kolam labuh, terhalang oleh posisi kapal lain. "Kondisi ini juga menyulitkan kapal-kapal yang dokumennya telah lengkap untuk berangkat," ujar Mahad.
Mahad juga menjelaskan bahwa lalu lintas kapal di pelabuhan terganggu karena kolam labuh yang sudah penuh dan kekurangan ruang gerak. "Dengan kondisi kepadatan sebagaimana foto tadi, bagi kami sulit dalam membantu olah gerak kapal karena tidak ada space (ruang) sama sekali," tambahnya.
Baca juga: Korea Selatan Bersiap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Kepadatan kapal berdampak signifikan pada aktivitas bongkar muat nelayan. Proses ini sering kali memakan waktu berhari-hari, mengakibatkan kerugian bagi para pelaku usaha perikanan.
Pengamatan di lokasi pada Rabu (28/1/2026) menunjukkan ratusan kapal terparkir rapat di dermaga, bahkan beberapa saling bersentuhan. Para nelayan sering berteriak satu sama lain ketika kapal mereka berbenturan akibat jarak yang sangat sempit.
James Wiling, salah satu pemilik kapal, menyatakan bahwa kepadatan membuat proses bongkar muat sulit dilaksanakan dan membutuhkan waktu hingga dua hari untuk menyelesaikannya.
Menanggapi situasi ini, Mahad mengusulkan beberapa langkah untuk mengatasi masalah kepadatan di Muara Angke. Salah satunya adalah menambah sarana pendukung di kolam labuh agar kapasitas daya tampung bisa meningkat.
Pihaknya juga berencana untuk menerapkan rekomendasi dari Panduan Rancang Kota terkait zona pelabuhan. Penambahan sarana seperti dermaga tambat labuh dan pengerukan kolam labuh akan dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Kondisi kepadatan yang terjadi saat ini menuntut perhatian serius dari pihak-pihak terkait agar aktivitas pelabuhan dapat berjalan lancar demi kepentingan ekonomi yang lebih besar.
Baca juga: Lima Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: