Lonjakan Harga Emas Antam Mencapai Rekor Tertinggi di Tengah Momentum Global
Harga emas yang diproduksi oleh PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. mengalami lonjakan tajam pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, dengan mencapai Rp2.968.000 per gram.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Lonjakan ini mencatatkan rekor tertinggi, meningkat Rp52.000 dibandingkan harga sebelumnya yang sebesar Rp2.917.000 per gram.
Dari informasi yang diperoleh dari situs resmi PT Antam, logammulia.com, harga emas satuan 1 gram yang dijual di butik emas LM Graha Dipta Pulo Gadung Jakarta mengalami lonjakan yang signifikan pada pukul 08.29 WIB.
Kenaikan harga ini menjadi kabar baik bagi para investor, terutama setelah penurunan harga yang tercatat sehari sebelumnya.
Tidak hanya harga jual, harga buyback emas Antam juga mengalami kenaikan, kini berada di angka Rp2.799.000 per gram, meningkat Rp50.000 dari harga sebelumnya.
Keberadaan harga buyback ini memberikan gambaran positif mengenai likuiditas pasar emas di Indonesia.
Kenaikan harga emas Antam sejalan dengan pergerakan harga emas global, yang pada Selasa, 27 Januari 2026, tercatat naik sekitar 3,48%, mencapai nilai US$5.014,11 per troy ons.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Dugaan Penghasutan Massal yang Memicu Kontroversi
Selama perdagangan intraday, harga emas global sempat mencapai titik tertinggi di level US$5.189,89 per troy ons, mencerminkan sentimen positif investor terhadap aset safe haven ini.
Kenaikan harga emas global ini tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan yang meningkat, tetapi juga oleh ketidakpastian ekonomi di berbagai negara yang mendorong investasi emas.
Analisis pasar menunjukkan bahwa tren ini kemungkinan akan berlanjut, mendorong lebih banyak investor untuk memasuki pasar.
Dengan pencapaian harga emas yang baru tercatat, para analis memproyeksikan bahwa tren positif ini kemungkinan akan berlanjut dalam waktu dekat.
Investasi emas menjadi salah satu pilihan utama bagi masyarakat, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi yang melanda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: