Kategori Berita
Senin, 12 JANUARI 2026 • 12:19 WIB

Keracunan Massal di Mojokerto: 261 Pelajar Diduga Terkait Makan Bergizi Gratis

Keracunan Massal di Mojokerto: 261 Pelajar Diduga Terkait Makan Bergizi GratisKeracunan Massal di Mojokerto: 261 Pelajar Diduga Terkait Makan Bergizi Gratis

Sebanyak 261 pelajar dan santri di Mojokerto, Jawa Timur, mengalami gejala keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga kini, ratusan di antaranya masih dalam perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia untuk Memperkuat Timnas

Pihak berwenang telah menghentikan operasional dapur penyedia MBG sementara sambil menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut mengenai insiden tersebut.

Detail Korban dan Penanganan Kesehatan

Dari total 261 pelajar yang terlibat, sebagian besar telah menjalani perawatan jalan, sedangkan 112 anak masih dirawat di rumah sakit dan Puskesmas. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini Sulistyowati, menyatakan bahwa 140 anak telah dipulangkan dari posko layanan kesehatan.

Posko layanan kesehatan didirikan pada 10 Januari 2026 di Pondok Pesantren Ma'had An Nur dan telah menjadi pusat penanganan bagi pelajar serta santri yang mengalami gejala keracunan. Gejala yang dilaporkan meliputi mual, muntah, pusing, demam, dan diare.

Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama dari Indonesia di Major League Soccer

Penghentian Operasional Dapur MBG

Keracunan massal ini diduga terkait dengan konsumsi soto ayam dari SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang yang disajikan pada 9 Januari 2026. Gejala mulai dirasakan oleh para korban pada malam hari setelah mengkonsumsi makanan tersebut.

Rosidian Prasetyo, Koordinator BGN Mojokerto, memastikan bahwa operasional dapur MBG akan dihentikan sementara hingga investigasi selesai. Ia juga menambahkan, 'Senin besok kami pastikan off, surat penghentian operasional sudah turun kemarin malam dari BGN.'

Investigasi dan Potensi Tindakan Hukum

Terkait insiden keracunan ini, pihak berwenang telah melakukan penyelidikan untuk menelusuri penyebab pastinya. Rosidian menjelaskan, 'Kalau dirasa melanggar aturan yang ada, pasti kami tutup permanen.'

Jika terdapat bukti kesalahan sumber daya manusia (SDM), Rosidian menegaskan, 'Apabila nanti ada anomali yang merujuk ke kesalahan SDM, ada temuan, ada bukti, kami proses dengan hukum yang ada.'

Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille, Klub Penuh Prestasi di Prancis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Keracunan Massal di Mojokerto: 261 Pelajar Diduga Terkait Makan Bergizi Gratis

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!