Densus 88 Antiteror mengungkap bahwa sebanyak 70 anak di Indonesia terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui komunitas media sosial yang dikenal sebagai True Crime Community (TCC).
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Menuai Kritik
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kombes Mayndra dalam sebuah konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan.
Komunitas True Crime Community mulai berkembang seiring dengan pertumbuhan media digital, tanpa dibentuk secara formal oleh organisasi atau tokoh tertentu.
Kombes Mayndra menjelaskan bahwa komunitas ini menarik individu dengan minat menuju kekerasan serta sensasionalisme, sehingga menciptakan ruang untuk interaksi dan solusi melalui tindakan kekerasan.
Penyebaran anggota komunitas menunjukkan bahwa DKI Jakarta mencatat jumlah terbesar dengan 15 anak, diikuti oleh Jawa Barat dengan 12 anak dan Jawa Timur dengan 11 anak.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual Berbasis Kecerdasan Buatan
Beberapa provinsi lain seperti Lampung, Jawa Tengah, DIY, dan Bali juga mencatat kehadiran anggota dengan angka yang lebih kecil.
Densus 88 mencatat bahwa beberapa faktor yang mendorong anak-anak bergabung dengan TCC antara lain pengalaman perundungan, ketidakharmonisan dalam keluarga, dan akses berlebihan terhadap perangkat digital.
Dalam aktivitas komunitas, beberapa anak diketahui telah melakukan pembelian replika senjata dan atribut militer berkaitan dengan ideologi kekerasan yang dianut.
Kombes Mayndra menekankan pentingnya langkah intervensi untuk anak-anak yang terpapar, di mana 67 dari mereka telah melalui proses asesmen dan konseling.
Densus 88 juga memperingatkan tentang potensi ancaman dari tindakan kekerasan yang dapat dilakukan oleh anggota TCC, seperti penikaman yang terinspirasi oleh insiden serupa di luar negeri.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama dari Indonesia di Major League Soccer
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: