Realita Kerja di Luar Negeri: Jam Kerja dan Kehidupan Sehari-hari yang Menantang
Bekerja di luar negeri merupakan pilihan populer bagi banyak individu yang ingin meningkatkan karir dan kualitas hidup. Namun, kenyataan mengenai jam kerja dan kondisi kehidupan sehari-hari sering kali jauh dari ekspektasi awal.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Menuai Kritik
Survei terbaru menunjukkan bahwa para pekerja migran menghadapi berbagai tantangan mulai dari jam kerja yang panjang hingga kesulitan dalam penyesuaian budaya yang berdampak pada keseharian mereka.
Jam kerja untuk pekerja migran bervariasi tergantung pada lokasi dan sektor industri masing-masing. Di sektor teknologi informasi, pekerja sering kali menghadapi jam kerja yang fleksibel tetapi bisa mencapai lebih dari 10 jam setiap hari.
Sementara itu, pekerja di sektor perhotelan dan layanan sering kali harus mengikuti jadwal yang tidak menentu, dengan jam kerja yang dapat mencapai 60 jam dalam seminggu. Ini menciptakan tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, hukum ketenagakerjaan mengatur jam kerja maksimum bagi karyawan. Meskipun demikian, banyak pekerja merasa terpaksa untuk lembur demi memenuhi target yang diinginkan.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025
Kendala penyesuaian budaya merupakan isu signifikan bagi pekerja migran. Perbedaan bahasa dan norma sosial sering menciptakan kesulitan dalam berinteraksi dengan rekan kerja serta lingkungan setempat.
Pekerja asal Indonesia sering kali merasakan kesenjangan dalam komunikasi dan budaya kerja, yang dapat meningkatkan tingkat stres. Seorang pekerja Indonesia yang bekerja di Jepang menyatakan, 'Budaya kerja di sini sangat berbeda; disiplin waktu sangat dijunjung tinggi.'
Proses adaptasi sering kali memerlukan waktu yang lama dan terkadang memerlukan dukungan dari komunitas untuk membantu mengatasi tantangan psikologis dan sosial.
Kesehatan mental menjadi aspek krusial bagi pekerja di luar negeri. Banyak pekerja merasakan tekanan akibat tuntutan kerja yang berat, ditambah dengan rasa kesepian akibat jarak dari keluarga.
Penelitian menunjukkan bahwa pekerja migran memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan mental seperti kecemasan dan depresi akibat berbagai faktor stres. Seorang psikolog menegaskan, 'Dukungan sosial sangat penting untuk menjaga kesehatan mental pekerja di luar negeri.'
Oleh karena itu, penting bagi pekerja untuk menemukan keseimbangan mental, seperti terlibat dalam kegiatan sosial atau menemukan hobi di luar pekerjaan.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Pertimbangan Penting untuk Pelari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: