Tingginya Angka Kelahiran Prematur di Indonesia dan Pentingnya Perawatan
Setiap tahun, sekitar 675 ribu bayi lahir prematur di Indonesia, menempatkan negara ini pada posisi kelima tertinggi di dunia dalam hal kelahiran prematur.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN
Angka ini mencerminkan tantangan signifikan dalam bidang kesehatan anak, di mana kelahiran prematur menjadi salah satu penyebab utama kematian di bawah usia lima tahun.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 15 juta bayi lahir prematur setiap tahunnya, dengan lebih dari satu juta di antaranya meninggal akibat komplikasi yang seharusnya dapat dicegah.
Di Indonesia, laporan Profil Kesehatan Indonesia 2024 menunjukkan bahwa 26,4 persen kematian bayi terjadi pada masa neonatal, dengan penyebab utama adalah prematuritas dan bayi berat lahir rendah (BBLR).
Statistik ini menggarisbawahi urgensi dan signifikansi masalah kesehatan ini dalam konteks perlindungan dan perawatan anak.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran BEM SI: ‘Indonesia (C)emas’ Digelar pada 2 September 2025
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rinawati Rosiswatmo, menekankan bahwa perawatan bayi prematur difokuskan tidak hanya pada kelangsungan hidup, tetapi juga pada kualitas tumbuh kembang mereka.
"Asupan gizi yang tepat sejak hari pertama sangat menentukan bagaimana bayi dapat bertahan dan berkembang di kemudian hari," tegas Rinawati dalam keterangan setelah seminar nasional bertajuk 'From Fragile Beginnings to Strong Futures: Advancing Nutrition for Premature Infants'.
Pembekalan informasi kepada orang tua tentang pentingnya nutrisi dan lingkungan yang mendukung sangat penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi bayi prematur.
Dokter Ahli Tumbuh Kembang Pediatri di RSCM, Bernie Endyarni Medise, mencatat bahwa perhatian holistik terhadap bayi prematur sangatlah penting.
"Bayi prematur dan BBLR membutuhkan perhatian menyeluruh, bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga dari dukungan emosional keluarga, stimulasi, dan asupan gizi yang berkelanjutan," kata Bernie.
Ia menekankan bahwa intervensi yang tepat, mulai dari perawatan intensif hingga dukungan keluarga, merupakan aspek krusial agar bayi-bayi ini dapat memiliki peluang yang lebih baik untuk tumbuh kuat dan sehat.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Insiden Perampokan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: