Kategori Berita
Selasa, 02 DESEMBER 2025 • 19:56 WIB

Penilaian Lingkungan Hidup: Delapan Perusahaan Diduga Perparah Banjir di Sumatra Utara

Penilaian Lingkungan Hidup: Delapan Perusahaan Diduga Perparah Banjir di Sumatra UtaraPenilaian Lingkungan Hidup: Delapan Perusahaan Diduga Perparah Banjir di Sumatra Utara

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengidentifikasi delapan perusahaan yang diduga memperparah kondisi banjir di Sumatra Utara.

Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi di sektor tanaman industri, tambang emas, dan perkebunan sawit, khususnya di sekitar daerah aliran sungai Batang Toru.

Identifikasi Perusahaan Terlibat

Dalam konferensi pers pada tanggal 2 Desember, Hanif mengungkapkan bahwa aktivitas perusahaan-perusahaan di daerah sekitar Tapanuli Selatan dapat berdampak signifikan pada keberadaan hutan dan aliran air.

Ia menyatakan, "Batang Toru ini memang DAS jadi kotanya Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah ini ada di sisi lembahnya. Kemudian dia curam, sementara di curamnya itu ada aktivitas, saya mencatat ada delapan entitas."

Pengawasan terhadap aktivitas industri di daerah tersebut menjadi semakin penting, mengingat hubungan langsung antara perusakan lingkungan dan risiko bencana alam bagi masyarakat lokal.

Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Pertimbangan Penting untuk Pelari

Panggilan untuk Pertanggungjawaban

Hanif menegaskan bahwa Deputi Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup telah mengirimkan panggilan kepada delapan perusahaan tersebut untuk memberikan klarifikasi.

Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 8 Desember diharapkan dapat menghasilkan penjelasan mengenai asal-usul kayu-kayu yang terdampar saat hujan deras, berkontribusi terhadap banjir.

"Kami minta mereka menjelaskan semua persoalannya termasuk menghadirkan citra satelit resolusi sangat tinggi pada saat kejadian supaya bisa membuktikan ini kayu itu dari mana asalnya," ujarnya.

Dampak Bencana dan Permintaan Maaf

Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menegaskan pentingnya pertanggungjawaban dari para pelaku industri dalam upaya mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut.

Hanif menyampaikan penyesalannya atas ketidakmampuan mendeteksi potensi bencana lebih awal, menyatakan bahwa "Bukan berarti kita tidak sedang berbela sungkawa, kami sangat berduka."

Ia juga mencatat peran perubahan iklim dan aktivitas manusia dalam berkontribusi pada bencana yang berlangsung, yang merupakan tantangan bagi pemerintah daerah.

Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille, Klub Penuh Prestasi di Prancis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Penilaian Lingkungan Hidup: Delapan Perusahaan Diduga Perparah Banjir di Sumatra Utara

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!