Jakarta Dinobatkan Sebagai Kota Terpadat di Dunia oleh PBB
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan Jakarta sebagai kota terpadat di dunia dengan populasi mencapai 42 juta jiwa, menggeser posisi Tokyo yang sebelumnya memegang peringkat tersebut.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Menandai Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan penjelasan mengenai definisi jumlah penduduk dan konteks mobilitas warga di wilayah metropolitan ini.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim, menjelaskan bahwa perhitungan jumlah penduduk sebesar 42 juta jiwa mengacu pada definisi yang menjelaskan urbanisasi di kota-kota besar.
Ia juga menambahkan bahwa jika menggunakan metode berbasis negara, proyeksi jumlah penduduk Jakarta untuk tahun 2025 hanya mencatat sekitar 12 juta jiwa, menempatkannya di peringkat ke-30 kota terpadat di dunia.
Angka tersebut berdasar pada revisi World Urbanization Prospects (WUP) oleh PBB, yang menyatakan Jakarta sebagai kota terpadat dengan Tokyo berada di urutan ketiga dengan populasi 33 juta jiwa.
Chico menekankan bahwa perhitungan ini mencakup mobilitas harian warga Jakarta dari delapan wilayah penyangga yang datang untuk berbagai aktivitas seperti bekerja, bersekolah, dan mengurus layanan publik.
Jakarta tidak hanya dihuni oleh penduduk resminya, tetapi juga oleh jutaan orang yang datang dari daerah sekitar setiap harinya.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025
Chico menegaskan, 'Mobilitas ini membuat Jakarta terasa jauh lebih padat daripada jumlah penduduk resminya.'
Sumber data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) mencatat 11.010.514 jiwa yang merupakan jumlah penduduk terdaftar di Jakarta untuk semester I tahun 2025.
Data yang dirilis oleh PBB menjadi referensi banyak media nasional dalam menggambarkan pergerakan populasi serta urbanisasi yang terjadi, di mana '42 juta itu adalah prediksi pergerakan urbanisasi di kota megapolitan.'
Dengan penobatan ini, Jakarta mengalami pertumbuhan demografis yang signifikan, namun juga menghadapi tantangan terkait infrastruktur dan layanan publik.
Chico mencatat bahwa perubahan ini harus diantisipasi melalui kebijakan yang dapat mengakomodasi pertumbuhan, serta upaya pengembangan kawasan baru dan peningkatan infrastruktur transportasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: