Fenomena Ghosting dalam Hubungan di Era Digital
Ghosting semakin menjadi fenomena umum di kalangan masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Praktik ini menggambarkan bagaimana seseorang menghilang dari suatu hubungan tanpa penjelasan jelas, meninggalkan pasangan dalam kebingungan.
Baca juga: Kemenperin Konfirmasi iPhone 17 Belum Ajukan Izin Penjualan di Indonesia
Peningkatan penggunaan aplikasi kencan dan interaksi daring tampaknya mempercepat tren ini. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang penyebab tingginya angka ghosting dalam masyarakat saat ini.
Ghosting adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tindakan menghilangnya seseorang dari sebuah hubungan tanpa memberi penjelasan. Dalam konteks hubungan romantis, ini terjadi ketika salah satu pihak secara mendadak memutus komunikasi dan mengabaikan pesan yang dikirim oleh lawan bicaranya.
Di era digital saat ini, ghosting semakin mudah dilakukan, terutama di platform media sosial dan aplikasi kencan. Dari sekadar tidak membalas pesan hingga menghapus akun, tindakan ini bisa membuat seseorang merasa ditinggalkan dan bingung tanpa pemahaman yang jelas.
Dampak psikologis dari ghosting juga tidak bisa dianggap sepele. Banyak orang merasa terluka dan bingung ketika ditinggal tanpa kata-kata, seolah-olah orang yang di-ghost tidak memiliki nilai atau pentingnya dalam hidup orang yang menghilang.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Ada beberapa alasan mengapa ghosting menjadi semakin diterima dalam masyarakat. Pertama, ada faktor kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi; komunikasi bisa dilakukan tanpa tatap muka, sehingga mengurangi rasa tanggung jawab atas tindakan sendiri.
Kedua, ketakutan menghadapi konfrontasi menjadi penyebab lain. Banyak orang merasa lebih nyaman menghilang daripada menjelaskan perasaan mereka dan risiko membagikan informasi yang mungkin menyakitkan.
Ada pula anggapan bahwa ghosting adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan memberikan jawaban yang menyakitkan. Orang-orang merasa mereka melakukan kebaikan dengan menghindari pembicaraan yang bisa berujung pada drama atau kesedihan.
Dampak ghosting biasanya dirasakan langsung oleh pihak yang ditinggalkan. Mereka sering kali merasa tersisih dan berusaha mencari tahu apa yang salah, padahal seringkali itu adalah keputusan sepihak tanpa penjelasan.
Ketidakpastian yang ditinggalkan oleh ghosting dapat menyebabkan masalah kesehatan mental, seperti meningkatnya kecemasan dan perasaan rendah diri. Banyak yang merasa dirugikan dan mempertanyakan nilai diri mereka setelah mengalami tindakan ini.
Dalam jangka panjang, ghosting dapat membentuk cara pandang dan kepercayaan seseorang terhadap hubungan. Mereka bisa menjadi lebih skeptis dan memiliki masalah untuk mempercayai orang lain di masa depan.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Dampaknya di Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: