Peningkatan Kasus Penyakit Jantung pada Individu Muda di Indonesia
Kasus penyakit jantung bukan lagi masalah eksklusif bagi orang tua, melainkan semakin banyak dialami oleh individu muda di Indonesia.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Tanggapan dan Komitmen Reformasi
Tren ini dipicu oleh kebiasaan hidup tidak sehat yang dianggap sepele oleh banyak kalangan.
Dr. Simon Salim, SpPD-KKV, dari Brawijaya Hospital menekankan bahwa pola hidup sedentari, termasuk terlalu banyak duduk, dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung pada usia muda.
Ia menyatakan bahwa gaya hidup sedentari, yang ditandai dengan kurang gerak dan waktu duduk yang berlebihan, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko penyakit jantung.
Menurutnya, jika seseorang duduk lebih dari delapan jam sehari dan jumlah langkah harian kurang dari 10 ribu, maka dampak kesehatan bisa berbahaya.
Di samping itu, kebiasaan konsumsi alkohol dan merokok juga semakin meningkatkan risiko penyakit jantung pada individu muda.
Untuk mengurangi risiko penyakit jantung, Dr. Simon menekankan pentingnya meningkatkan jumlah langkah harian.
Baca juga: Korea Selatan Bersiap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Ia merekomendasikan kebiasaan sederhana dalam menambah aktivitas fisik, seperti turun satu stasiun lebih awal saat menggunakan transportasi umum.
Bagi mereka yang menggunakan kendaraan pribadi, dr Simon menyarankan agar parkir di tempat yang lebih jauh dari lift untuk meningkatkan frekuensi berjalan kaki.
Dengan mengadopsi langkah-langkah kecil ini, diharapkan individu muda dapat lebih aktif secara fisik dan menjaga kesehatan jantung mereka.
Pendidikan tentang kesehatan jantung di kalangan generasi muda juga dianggap krusial.
Kesadaran akan risiko penyakit jantung serta cara pencegahannya harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: