Penyakit Autoimun: Peningkatan Rentan pada Perempuan dan Inovasi Pengobatannya
Penyakit autoimun merupakan gangguan di mana sistem imun tubuh menyerang sel sehatnya sendiri, dengan data menunjukkan bahwa hampir 80 persen penderita adalah perempuan.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Tanggapan dan Komitmen Reformasi
Berbagai kondisi seperti lupus dan artritis reumatoid semakin meningkat, sehingga memicu penelitian untuk memahami faktor risiko yang meningkatkan kerentanan perempuan terhadap penyakit ini.
Penyakit autoimun muncul ketika sistem imun salah mengenali sel sehat sebagai ancaman. Lebih dari 100 jenis kondisi autoimun dapat mempengaruhi individu, mulai dari yang ringan hingga berpotensi mengancam nyawa.
Beberapa jenis penyakit ini termasuk Sjogren’s syndrome, lupus, rheumatoid arthritis, miositis, dan miastenia gravis. Gejala awal penyakit ini sering kali samar, seperti nyeri sendi, demam, dan kelelahan, sehingga diagnosis dapat terlambat.
Diagnosis yang akurat memerlukan serangkaian tes darah dan antibodi, serta konsultasi dengan berbagai dokter. Pemahaman yang lebih dalam tentang penyakit autoimun sangat penting untuk penanganan kesehatan yang optimal.
Baca juga: Apple Diperkirakan Luncurkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Tinjauan Naratif dari National Institute Health mengidentifikasi bahwa mayoritas penderita penyakit autoimun adalah perempuan, dikarenakan variasi kromosom seks dan fluktuasi hormonal. Keberadaan dua kromosom X pada perempuan memberikan mereka risiko lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Penelitian yang dipublikasikan di PubMed Central menyatakan bahwa gen Kdm6a lebih aktif dalam sel imun wanita. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan respons imun antara kedua jenis kelamin.
UCLA Health melaporkan studi pada hewan yang menunjukkan bahwa penghilangan gen tersebut dapat mengurangi peradangan dan aktivitas penyakit dalam model multiple sclerosis. Hal ini menunjukkan bahwa respons imun perempuan mungkin lebih kompleks dan berisiko.
Dalam perkembangan terbaru, terdapat harapan baru untuk pengobatan penyakit autoimun yang selama ini bergantung pada imunosupresan yang memiliki potensi efek samping serius. Sejumlah inovasi pengobatan sedang diuji coba, seperti terapi sel dan pendekatan eksperimental CAR-T.
Terapi ini bertujuan untuk 'mereset' sistem imun pada kondisi seperti lupus, dengan harapan meningkatkan kualitas hidup penderita. Pemrograman ulang imun, yang menarget perilaku sel imun agar lebih teratur, juga sedang diteliti.
Selain itu, diagnostik canggih seperti studi proteomik diharapkan dapat membantu memprediksi flare lupus dengan lebih akurat, sehingga perawatan dapat menjadi lebih tepat waktu dan personal.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: