Ketegangan Diplomatik Jepang dan China Berdampak pada Pariwisata
Hubungan antara Jepang dan China kembali mengalami ketegangan, yang berdampak signifikan pada sektor pariwisata Jepang. Peringatan perjalanan yang dikeluarkan oleh pemerintah China mencerminkan kondisi politik yang kemerosot.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Melanjutkan Perjalanan ke China
Pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengenai kemungkinan penggunaan kekuatan militer dalam situasi Taiwan telah memicu reaksi tajam dari Beijing. Kebijakan ini menyebabkan penurunan tajam jumlah wisatawan asal China yang berkunjung ke Jepang.
Ketegangan antara Jepang dan China terus meningkat seiring dengan pernyataan yang disampaikan oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. Dalam rapat parlemen pada 7 November 2025, Takaichi menyebut kemungkinan penggunaan kekuatan militer China dalam konteks Taiwan sebagai suatu ancaman bagi Jepang.
Pernyataan tersebut merujuk pada hukum keamanan Jepang yang diundangkan pada 2015, yang memberikan dasar bagi Jepang untuk mengerahkan pasukan ketika sekutunya diserang. Hal ini memicu reaksi negatif dari pemerintah China, yang melihat pernyataan ini sebagai bentuk campur tangan dalam urusan mereka.
Baca juga: Google Menanggapi Isu Keamanan Phishing pada Layanan Gmail
Peringatan perjalanan yang diluncurkan oleh pemerintah China menandakan adanya penurunan tajam dalam angka kunjungan wisatawan China ke Jepang. Data dari Citi mencatat bahwa Jepang selama periode Januari hingga November 2024 berada di posisi keempat sebagai destinasi favorit bagi wisatawan China, dengan sekitar 7 juta pengunjung.
Namun, setelah pernyataan Takaichi, terjadi penurunan saham perusahaan-perusahaan pariwisata Jepang, dengan Isetan Mitsukoshi dan Japan Airlines masing-masing mengalami penurunan sebesar 10,7% dan 4,4%. Ini menunjukkan dampak langsung dari ketegangan diplomatik terhadap industri pariwisata Jepang.
Sebagai langkah tanggap, pemerintah China mengimbau warganya untuk menunda perjalanan menuju Jepang dan meningkatkan kewaspadaan bagi pelajar China yang sedang belajar di Jepang, yang kini dianggap berisiko menghadapi situasi tidak aman.
Juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, meminta agar pemerintah China mengambil langkah yang lebih proporsional. Ia juga mengungkapkan bahwa pejabat tinggi Jepang dan China dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan pada 18 November 2025 untuk mendiskusikan situasi yang semakin memanas.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat dengan Lille, Klub Penuh Prestasi di Prancis
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: