Kritik Terhadap Penghapusan Ahli Gizi dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi
Pernyataan Wakil Ketua DPR RI Cucun Syamsurijal mengenai penghapusan ahli gizi dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk dari dokter dan ahli gizi Tan Shot Yen.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Menuai Kritik
Keputusan ini dianggap dapat mempengaruhi kualitas program pemenuhan gizi yang ditujukan untuk masyarakat, serta menimbulkan risiko kesehatan yang serius.
Wakil Ketua DPR RI Cucun Syamsurijal menyatakan tidak akan melibatkan ahli gizi dalam program SPPG, melainkan akan menggantinya dengan tenaga penanganan gizi yang dilatih selama tiga bulan. Pernyataan ini menunjukkan pengurangan terhadap pentingnya keahlian dalam penanganan gizi.
Tan Shot Yen, seorang dokter dan ahli gizi, memperingatkan bahwa keputusan ini akan berdampak negatif pada keselamatan masyarakat. Ia berpendapat bahwa kurangnya kehadiran ahli gizi akan berisiko besar bagi efektivitas SPPG.
Menanggapi hal ini, Tan Shot Yen menegaskan bahwa keputusan tersebut mengindikasikan bahwa gizi tidak lagi dianggap prioritas, dan dianggap sepele oleh para pengambil kebijakan.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer
Tan Shot Yen menyampaikan beberapa poin penting dalam kritiknya terhadap kebijakan yang baru diumumkan. Ia menilai bahwa pernyataan Cucun menunjukkan pengabaian terhadap hukum profesi yang berpotensi menyebabkan masalah serius dalam pengaturan gizi publik.
Ia menuturkan, 'SPPG tanpa ahli gizi bagaikan pesawat tanpa pilot,' mengindikasikan bahwa kurangnya profesionalisme dalam penanganan gizi dapat berakibat fatal bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Tan Shot Yen menilai bahwa SPPG tanpa melibatkan ahli gizi akan menjadikan program unggulan ini hanya sebagai proyek bagi-bagi uang, yang jauh dari misi awal untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Tan Shot Yen menggarisbawahi pentingnya kehadiran ahli gizi untuk menjaga kualitas pangan dan kesehatan masyarakat. Tanpa mereka, pengelolaan gizi dipastikan kehilangan kontrol dan berisiko menggunakan bahan pangan yang tidak sehat.
Ia menekankan bahwa, 'Matinya kepakaran. Ahli gizi disamakan seperti tukang masak dan tenaga bebersih,' menunjukkan risiko yang dihadapi masyarakat, terutama anak-anak, tanpa pengawasan ahli gizi.
Pentingnya kesadaran dari pemerintah dan masyarakat mengenai posisinya dalam pengelolaan gizi juga ditekankan oleh Tan Shot Yen.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Pemblokiran Jalan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: