Klaim Nuklir Trump: AS Miliki Senjata yang Mampu Menghancurkan Dunia 150 Kali Lipat
Presiden Donald Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat memiliki kekuatan senjata nuklir yang dapat menghancurkan dunia hingga 150 kali lipat. Pernyataan ini diungkap dalam wawancara eksklusif dengan CBS baru-baru ini.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Menuai Kritik
Trump juga menekankan bahwa AS memiliki lebih banyak senjata nuklir dibandingkan negara lain, serta menjelaskan instruksi untuk uji coba nuklir menyusul perkembangan internasional yang mengkhawatirkan.
Dalam wawancaranya, Trump menyatakan, 'Kita punya cukup senjata nuklir untuk meledakkan dunia 150 kali.' Klaim ini menyoroti kekuatan persenjataan nuklir yang dimiliki oleh AS dan diperbandingkan dengan Rusia dan China yang juga sedang mengembangkan program senjata nuklir.
Trump menjelaskan, 'Rusia punya banyak senjata nuklir, China juga akan punya lebih banyak lagi. Mereka punya beberapa, tapi (lebih banyak AS).' Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan Trump terhadap dominasi militer yang ada di tangan AS.
Pernyataan ini muncul dalam konteks ketegangan global yang meningkat, terutama setelah Rusia mengumumkan peluncuran sistem senjata canggih mereka, meningkatkan perhatian internasional.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025
Trump menginstruksikan Departemen Perang untuk mulai melakukan uji coba senjata nuklir AS, mencatat bahwa sejumlah negara lainnya sudah melakukannya. Ia mengatakan, 'Karena negara-negara lain sedang menguji program, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk mulai menguji senjata nuklir kami secara setara.'
Keputusan ini sejalan dengan perkembangan di internasional, khususnya setelah Rusia meluncurkan sistem torpedo nuklir bernama Poseidon. Sistem ini dikenal dapat memicu dampak besar, termasuk kemungkinan tsunami.
Trump mengakui bahwa uji coba nuklir adalah langkah yang ketinggalan, bahkan menyatakan, 'Kita satu-satunya negara yang tidak melakukannya, dan saya tidak ingin jadi satu-satunya negara yang tidak menguji coba (senjata nuklir).' Ini menunjukkan adanya tekanan yang dirasakan AS di arena global.
Jika uji coba ini terlaksana, maka ini akan menjadi yang pertama kali sejak tahun 1992, ketika AS terakhir kali menguji senjata nuklir yang diberi nama sandi 'Divider'. Sejak saat itu, moratorium uji coba nuklir diterapkan di AS, menjadikannya satu-satunya negara dengan kebijakan tersebut.
Trump menilai bahwa anggapan yang menyebutkan Pyongyang sebagai satu-satunya negara yang melakukan uji coba nuklir adalah tidak akurat. Ia menjelaskan, 'Rusia dan China sedang menguji coba (senjata nuklir), tapi mereka tidak membicarakannya.'
Dengan pernyataan tersebut, Trump berupaya menunjukkan tantangan yang dihadapi AS di tengah ketidakjelasan informasi seputar uji coba di negara lain, yang menurutnya merupakan 'masyarakat terbuka'.
Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Kecil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: