Kasus Kekerasan di Sekolah Dasar Palembang: Seorang Bocah Perempuan Mengalami Penganiayaan
Kasus dugaan kekerasan di lingkungan sekolah dasar kembali mencuat, kali ini melibatkan seorang bocah perempuan berinisial F dari SD Negeri 150 Sungai Tenang, Gandus, Palembang. Ia pulang sekolah dengan kondisi mata merah dan lebam, diduga akibat penganiayaan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN
Kejadian ini menambah deretan panjang kasus kekerasan terhadap anak di tempat yang seharusnya aman, memperlihatkan keresahan orang tua dalam mencari keadilan di tengah sikap bungkam pihak sekolah.
Bi Erna, ibu dari F, mendapat kabar buruk saat menjemput anaknya dari sekolah pada akhir Oktober 2025. Ia sangat terkejut melihat kondisi mata anaknya yang bengkak dan merah, serta lebam di kelopak mata.
Mencari penjelasan, Bi Erna mencoba mengkonfirmasi kepada para guru, namun hanya mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan. Para guru tampak tidak memiliki kejelasan, dan menyalahkan F yang dikenal jarang bermain ponsel sebagai penyebab kebengkakan tersebut.
Kekecewaan Bi Erna semakin meningkat saat seorang guru bahkan mengancamnya ketika ia menyatakan niat untuk melaporkan insiden itu ke polisi. 'Jangan asal tuduh, nanti kamu bisa dilaporin balik,' ujar sang guru, memperburuk situasi.
Baca juga: Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Ditangkap: Tuduhan Provokasi dan Tindakan Anarkis
Menyadari ketidakpuasan dengan langkah yang diambil pihak sekolah, Bi Erna memutuskan untuk membawa F ke Rumah Sakit Bunda Palembang. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa pembuluh darah di sekitar mata F pecah akibat pukulan atau benturan benda tumpul.
Meski F telah mendapatkan perawatan medis yang diperlukan, ia masih mengeluhkan rasa sakit setiap malam. Ketika ditanya mengenai siapa yang melukainya, F menunjukkan ketakutan dan enggan berbicara.
Selanjutnya, kasus ini dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Palembang dan menjadi perhatian publik serta perbincangan hangat di media sosial.
Kasus yang menimpa F menarik perhatian publik, termasuk respon dari Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang menyatakan telah menerima laporan masyarakat terkait insiden ini. Banyak pihak berharap penegak hukum akan menyelidiki dengan tuntas dugaan kekerasan yang menimpa F.
Laporan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak sering terjadi di lingkungan pendidikan, baik dari sesama siswa atau oknum guru. Hal ini menyoroti pentingnya pengawasan yang lebih ketat di lembaga pendidikan.
Faktor seperti kurangnya pengawasan, ketiadaan CCTV, dan budaya menutupi insiden demi menjaga nama baik sekolah semakin memperburuk situasi perlindungan anak. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan untuk memperkuat protokol yang ada agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: