Kategori Berita
Senin, 03 NOVEMBER 2025 • 14:55 WIB

Kekerasan oleh Pasukan Dukungan Cepat: Krisis Kemanusiaan di Sudan

Kekerasan oleh Pasukan Dukungan Cepat: Krisis Kemanusiaan di SudanKekerasan oleh Pasukan Dukungan Cepat: Krisis Kemanusiaan di Sudan

Pasukan Dukungan Cepat atau Rapid Support Forces (RSF) tengah menjadi perhatian global setelah laporan dugaan pembantaian sekitar 2.000 warga sipil di El Fasher, Darfur, Sudan muncul ke permukaan.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia untuk Memperkuat Timnas

Violensi ini terkait dengan konflik berkepanjangan antara RSF dan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) yang telah meluluhlantakkan stabilitas negara sejak dimulainya perang sipil.

Latar Belakang RSF

Rapid Support Forces (RSF) merupakan kelompok paramiliter yang dikenal sejak lama sebagai 'Janjaweed', dibentuk untuk mendukung rezim Presiden Omar Al Bashir.

Pada tahun 2013, Presiden Bashir meresmikan Janjaweed menjadi RSF dengan sekitar 100.000 anggota dan memberinya kekuasaan sebagai pasukan keamanan independen.

Sejak saat itu, RSF aktif terlibat dalam berbagai konflik di Sudan, termasuk peran pentingnya dalam menggulingkan pemerintahan Bashir pada tahun 2019.

Namun, keinginan mereka untuk terintegrasi dengan angkatan bersenjata nasional menimbulkan ketegangan yang akhirnya memicu perang sipil di tahun 2023.

Kekerasan dan Pengungsian

Sejak pecahnya konflik, RSF telah menguasai wilayah penting dan melakukan serangkaian aksi kekerasan yang mengakibatkan jumlah pengungsi meningkat drastis.

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Dugaan Penghasutan Massal yang Memicu Kontroversi

Dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 26.000 orang dipaksa mengungsi, banyak di antaranya berjalan kaki menuju Tawila untuk menghindari kekejaman yang terjadi di El Fasher.

Kota El Fasher kini menjadi zona konflik dengan sekitar 177.000 warga sipil terjebak di dalamnya, memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah kritis.

RSF dituduh terlibat dalam berbagai bentuk kekerasan, termasuk penyiksaan dan eksekusi terhadap warga sipil, yang footage-nya sering beredar di media sosial.

Sikap Pemimpin RSF dan Masa Depan Sudan

Pemimpin RSF, Mohammed Hamdan Hemedeti Dagolo, mengklaim bahwa kelompoknya berkomitmen untuk memimpin Sudan dan 'menciptakan perdamaian sejati'.

Namun, aksi RSF dalam mengepung wilayah strategis menunjukkan bahwa situasi kekerasan di Sudan mungkin belum akan mereda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Kekerasan oleh Pasukan Dukungan Cepat: Krisis Kemanusiaan di Sudan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!