Tragedi Ambruknya Gedung Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo
Empat santri meninggal dunia akibat ambruknya gedung Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, pada 29 September 2023.
Baca juga: Kemenperin Konfirmasi iPhone 17 Belum Ajukan Izin Penjualan di Indonesia
Keluarga korban meminta pihak berwenang untuk menyelidiki dan menuntut pertanggungjawaban hukum atas kejadian tragis ini.
Ambruknya gedung tersebut terjadi pada 29 September dan menyebabkan empat santri meninggal dunia. Fauzi, paman dari empat korban, menjelaskan bahwa anaknya selamat karena berada di area yang tidak terkena dampak.
Ia juga menegaskan adanya kekhawatiran terhadap keselamatan dan kualitas bangunan. 'Kalau memang di situ ada human error atau kelalaian manusia dalam hal pembangunan, ya harus diproses,' ujarnya.
Fauzi menambahkan bahwa ia telah berkonsultasi dengan seorang ahli konstruksi yang menyatakan bahwa kondisi gedung tersebut tidak layak dan tidak memenuhi standar. 'Dilihat dari konstruksinya memang tidak standar untuk pembangunan,' imbuhnya.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Dampaknya di Kampus
Dalam pernyataannya, Fauzi meminta agar pihak-pihak yang terkait, termasuk pengurus pondok pesantren dan para kiai, mendapat proses hukum yang adil. Ia menyatakan bahwa 'tidak ada yang kebal' dari hukum buat mereka yang memiliki status sosial tinggi.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran terkait dugaan eksploitasi anak dimana santri terlibat dalam proses pembangunan gedung. 'Nanti bukan tidak mungkin ada eksploitasi anak di sana,' ujarnya.
Fauzi berharap dengan adanya penegakan hukum, kasus ini dapat menjadi pembelajaran agar insiden serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang, memastikan keselamatan para santri. 'Supaya ke depan adik-adik kita bisa belajar dengan aman,' tambahnya.
Muhammad Ma'ruf, ayah dari santri yang berusia 13 tahun, menganggap kejadian ini sebagai sebuah takdir. 'Kami nitipkan di pondok ini dengan tujuan agar anak kami kenal dengan Tuhannya,' ucap Ma'ruf.
Sementara itu, KH Abdus Salam Mujib, pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny, meminta semua pihak untuk bersabar dan menerima peristiwa ini sebagai takdir. 'Ya saya kira ini takdir dari Allah, jadi semuanya harus bisa bersabar,' ungkap Mujib.
Mujib berharap pengorbanan para korban akan digantikan dengan pahala dari Allah SWT. 'Diberi pahala yang sangat-sangat, apa ya, nggak bisa mengutarakan dan mudah-mudahan dibalas kebaikan oleh Allah SWT yang lebih dari musibah ini,' harapnya.
Baca juga: Mengenal Finfluencer dan Peranannya dalam Pendidikan Keuangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: