Dua Tahun Serangan Israel ke Jalur Gaza: Korban dan Upaya Perdamaian
Hari ini menandai dua tahun sejak dimulainya serangan Israel ke Jalur Gaza, di mana ribuan nyawa melayang dan infrastruktur hancur total.
Baca juga: Apple Diperkirakan Luncurkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah korban tewas mencapai 67.160 orang, terdiri dari mayoritas wanita dan anak-anak.
Sumber medis menyatakan bahwa sejak agresi dimulai pada Oktober 2023, jumlah korban luka mencapai 169.679 orang. Dalam 24 jam terakhir, dilaporkan sejumlah 21 jenazah dan 96 korban luka telah dirawat di rumah sakit di Gaza.
Lebih lanjut, dua warga Palestina tewas dan 19 lainnya terluka saat mencoba menerima bantuan kemanusiaan. Hal ini menambah total korban pencari bantuan yang tewas menjadi 2.610 orang.
Kondisi kemanusiaan semakin parah di Gaza, di mana akses untuk bantuan semakin sulit akibat serangan militer yang terus berlangsung. Infrastruktur yang hancur menambah kesulitan dalam penyaluran bantuan.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025
Setelah kesepakatan gencatan senjata pada 19 Januari 2025, Israel melanggar kesepakatan tersebut dengan serangkaian serangan brutal pada 18 Maret 2025. Akibatnya, tambahan 13.568 orang tewas dan lebih dari 57.638 lainnya mengalami luka-luka.
Media Timur Tengah, seperti Al Jazeera, merekam potret suasana di Gaza yang menggambarkan kerusakan parah pada rumah, fasilitas umum, dan tempat ibadah akibat serangan yang tidak berkesudahan.
Dalam laporan terbaru, 79 persen masjid dan 3 gereja di Gaza dilaporkan hancur. Hal ini mencerminkan dampak besar pada aspek spiritual dan budaya masyarakat setempat.
Saat ini, dunia fokus pada situasi di Gaza, terutama setelah PBB melakukan sidang Majelis Umum yang didominasi oleh dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Perwakilan Hamas dan Israel tengah terlibat dalam perundingan tidak langsung yang difasilitasi oleh mediator, termasuk AS dan Mesir.
Perundingan ini bertujuan untuk membahas gencatan senjata dan pembebasan sandera. "Perundingan ini diperkirakan akan berlangsung beberapa hari dan melibatkan mediator dari AS, Qatar, Mesir, dan Turki," ujar seorang pejabat yang mengetahui agenda tersebut.
Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya dialog dalam mencari solusi damai terhadap konflik yang berkepanjangan, di tengah tensi yang terus meningkat.
Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Kecil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: