Kategori Berita
Rabu, 01 OKTOBER 2025 • 17:45 WIB

Tragedi Kanjuruhan: Memperingati Tiga Tahun Insiden Sepakbola Terburuk di Indonesia

Tragedi Kanjuruhan: Memperingati Tiga Tahun Insiden Sepakbola Terburuk di IndonesiaTragedi Kanjuruhan: Memperingati Tiga Tahun Insiden Sepakbola Terburuk di Indonesia

Tragedi Kanjuruhan menjadi pengingat mendalam bagi seluruh pecinta sepakbola di Indonesia, setelah insiden yang merenggut 135 nyawa ini terjadi pada 1 Oktober 2022.

Baca juga: Lima Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian

Kejadian ini dikenang sebagai hari kelam nasional setelah pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan berakhir dengan kerusuhan.

Kronologi Tragedi Kanjuruhan

Pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022 berakhir dengan kekalahan bagi tuan rumah, yang kalah 2-3. Setelah pertandingan, sekelompok suporter Arema FC memasuki lapangan, yang memicu kerusuhan ketika pihak kepolisian berusaha membubarkan mereka.

Dalam upaya membubarkan massa, pihak kepolisian menggunakan gas air mata, yang semakin memperburuk situasi. Ratusan suporter berlarian menuju pintu keluar, mengakibatkan penumpukan yang berujung pada tragedi.

Sekitar 3.000 pendukung Arema, yang dikenal dengan sebutan Aremania, mulai menginvasi lapangan, menambah kepanikan di antara suporter lainnya dan merusak fasilitas di stadion.

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video Parodi

Penyebab dan Faktor Pendukung Kerusuhan

Hasil investigasi oleh Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) mengungkapkan bahwa terdapat enam jenis senjata gas air mata yang digunakan oleh pihak keamanan. Penemuan gas air mata yang telah kadaluarsa juga ditemukan di lokasi kejadian.

Media asing seperti The Washington Post melaporkan tindakan polisi yang menembakkan lebih dari 40 peluru gas air mata ke arah kerumunan dalam waktu singkat, yang memperparah insiden tersebut. Ini menimbulkan kritikan atas penggunaan gas air mata dalam situasi yang seharusnya bisa lebih terkendali.

Investigasi lebih lanjut menunjukkan bahwa penggunaan gas air mata dalam situasi kerumunan harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan dibatasi, namun langkah-langkah pencegahan dalam mengelola kerumunan tidak dilakukan dengan benar.

Tuntutan Keadilan oleh Keluarga Korban

Keluarga korban terus berjuang untuk menuntut keadilan atas insiden yang merenggut nyawa tercinta mereka. Mereka berharap adanya tindakan hukum yang tegas terhadap pihak-pihak yang dinilai bertanggung jawab.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, demonstrasi dan berbagai kegiatan sosial lainnya digelar untuk menarik perhatian publik dan pemerintah mengenai pentingnya keselamatan dalam dunia sepakbola.

Duka yang ditinggalkan oleh tragedi ini bukan hanya soal kehilangan nyawa, melainkan juga dampak psikologis yang berkepanjangan bagi para penyintas dan masyarakat luas.

Baca juga: Mengenal Finfluencer dan Peranannya dalam Pendidikan Keuangan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Tragedi Kanjuruhan: Memperingati Tiga Tahun Insiden Sepakbola Terburuk di Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!